
Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar saat memimpin penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. (Dokumentasi Radar Kediri)
JawaPos.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy atau Gus Lilur, melontarkan sejumlah catatan terhadap pidato berbahasa Arab yang disampaikan Rais Aam PBNU Kiai Miftahul Akhyar dalam penutupan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Bangkalan, Jawa Timur, pada 20-23 Juni 2026. Munas-Konbes itu digelar menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, pada 1-5 Agustus 2026.
Menurut Gus Lilur, ia mengikuti pidato tersebut secara saksama melalui kanal NU Online. Ia mengaku memiliki bekal yang cukup untuk menelaah isi pidato karena pernah menempuh pendidikan di MAN-PK serta menjadi santri di Pondok Pesantren Denanyar.
"Saya menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui siaran langsung kanal NU Online," kata Gus Lilur, Minggu (28/6).
Gus Lilur mengungkapkan, saat mendengarkan pidato tersebut, ia menemukan adanya kutipan hadis mengenai kepemimpinan dan keadilan yang menurutnya berasal dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali. Namun, ia menilai sumber rujukan tersebut tidak disebutkan selama pidato berlangsung.
"Ketika sampai pada kutipan hadis yang menyatakan bahwa sebuah negeri, meskipun dipimpin oleh orang kafir, tetap dapat makmur selama jauh dari kezaliman, saya menyadari bahwa materi yang dibacakan ternyata bukanlah susunan beliau sendiri, melainkan diambil dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali," ucapnya.
Ia juga mempertanyakan tidak adanya penyebutan kitab maupun nama pengarang selama pidato berlangsung. Menurutnya, hal tersebut layak menjadi perhatian dari sisi etika akademik maupun tradisi keilmuan.
"Anehnya, sepanjang kurang lebih 16 menit 25 detik pidato tersebut, saya tidak sekali pun mendengar beliau menyebut sumber rujukannya. Tidak ada penyebutan nama kitab, apalagi pengarangnya," ujarnya.
Gus Lilur menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan praktik tersebut jika ditinjau dari ilmu balaghah maupun perspektif akademik modern.
"Karena itu, saya merasa pantas untuk bertanya: bukankah praktik seperti ini dalam ilmu balaghah dapat dikategorikan sebagai sariqah—atau, dalam istilah akademik modern, plagiasi?," tuturnya.
Selain menyoroti sumber kutipan, Gus Lilur mengaku menemukan sejumlah kekeliruan dalam pembacaan teks pidato. Menurutnya, hal itu menjadi perhatian karena pidato tersebut dibacakan dari naskah yang telah tersedia.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Start P7 di Sirkuit Assen! Veda Ega Pratama Bongkar Penyebab Crash di Practice Moto3 Belanda 2026
