
Ilustrasi produksi rokok. (Dok. JawaPos)
JawaPos.com – Usulan kenaikan batas produksi rokok golongan tarif rendah menuai kritik. Sejumlah kalangan menilai kebijakan tersebut berpotensi memperluas peredaran rokok murah, memperparah fenomena downtrading, hingga menggerus penerimaan negara dari cukai hasil tembakau (CHT).
Perdebatan muncul setelah anggota Komisi XI DPR RI Andi Yuliani Paris mengusulkan adanya cukai rokok khusus bagi kalangan menengah ke bawah serta peningkatan ambang batas produksi rokok di atas 3 miliar batang per tahun. Menurut Andi, ketersediaan rokok dengan harga lebih murah dapat menjadi salah satu cara menekan peredaran rokok ilegal.
Namun, Project Lead Tobacco Control Center Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Beladenta Amalia menilai langkah tersebut justru berisiko memperbanyak keberadaan rokok murah di pasaran. Sebab, perusahaan rokok dapat meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus berpindah ke golongan tarif yang lebih tinggi.
“Kalau produsen bisa memproduksi lebih banyak dengan tarif cukai yang masih rendah, tentu keberadaan rokok murah di pasar akan semakin banyak,” jelas Amalia.
Pihaknya menambahkan, kebijakan tersebut juga berpotensi mengurangi optimalisasi penerimaan negara. Saat ini, tarif cukai sigaret kretek mesin (SKM) golongan I sebesar Rp1.231 per batang, sedangkan golongan II dengan batas produksi hingga 3 miliar batang dikenakan tarif Rp746 per batang. Dengan demikian terdapat selisih Rp485 per batang.
“Ini justru merugikan dari sisi penerimaan negara karena potensi penerimaan yang lebih besar tidak tercapai. Gejalanya sudah terlihat dalam dua tahun terakhir,” sambungnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Center of Human and Economic Development (CHED) ITB Ahmad Dahlan, Roosita Meilani Dewi. Menurut dia, kenaikan batas produksi pada golongan tarif rendah akan membuat perusahaan rokok besar semakin leluasa memasarkan produk murah tanpa berpindah ke kelompok tarif yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperparah fenomena downtrading, yakni perpindahan konsumen dari produk dengan harga lebih mahal ke produk yang lebih murah.
“Menaikkan batas produksi di golongan tarif rendah akan membuat pabrikan besar bisa membanjiri pasar dengan rokok murah tanpa perlu naik kelas ke tarif cukai yang lebih tinggi. Ini akan memperparah fenomena downtrading dan memicu lonjakan konsumsi,” ujarnya.
Menurut Roosita, perusahaan yang saat ini berada di sekitar ambang batas produksi menjadi pihak yang paling diuntungkan apabila usulan tersebut diterapkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
