Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Agustus 2026 | 01.40 WIB

Studi Lancet: Penurunan Perokok Selandia Baru Melaju 5 Kali Lebih Cepat

Ilustrasi rokok elektrik vs rokok konvensional. (EDGE Vaping) - Image

Ilustrasi rokok elektrik vs rokok konvensional. (EDGE Vaping)

JawaPos.com - Penurunan prevalensi merokok di Selandia Baru berlangsung jauh lebih cepat sejak 2018. Studi yang diterbitkan jurnal The Lancet mengaitkan percepatan tersebut dengan kombinasi kebijakan pengendalian tembakau dan pendekatan tobacco harm reduction (THR) atau pengurangan bahaya tembakau.

Pendekatan THR pada dasarnya ditujukan bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok, dengan menyediakan pilihan produk nikotin yang tidak melalui proses pembakaran tembakau. Dalam konteks Selandia Baru, produk yang dibahas mencakup rokok elektronik atau vape, produk tembakau yang dipanaskan, serta kantong nikotin.

Namun, temuan tersebut tidak berarti produk alternatif bebas risiko. Para peneliti membedakan risiko yang berasal dari pembakaran tembakau dengan paparan nikotin, sementara penggunaan produk nikotin tetap memiliki risiko kesehatan dan tidak ditujukan bagi nonperokok, anak-anak, atau remaja.

Penurunan prevalensi merokok Selandia Baru Melaju Sejak 2018

Temuan mengenai perubahan tren merokok tersebut dipaparkan dalam studi New Zealand's accelerating smoking decline: Lessons for tobacco harm reduction.

Studi itu ditulis Profesor Emeritus Universitas Auckland Robert Beaglehole dan Ruth Bonita bersama pakar kesehatan independen Ben Youdan.

Para peneliti mencatat prevalensi merokok orang dewasa di Selandia Baru memang sudah menurun sebelum 2018. Namun, kecepatannya meningkat secara signifikan setelah periode tersebut.

Sebelum 2018, prevalensi merokok turun sekitar 3,5 persen per tahun. Sementara pada periode 2018-2023, laju penurunannya meningkat menjadi sekitar 17,9 persen per tahun.

Perubahan tersebut menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan berkembangnya penggunaan produk nikotin alternatif dan perubahan pendekatan pemerintah terhadap produk tersebut.

“Titik baliknya terjadi pada 2019 ketika penggunaan rokok elektronik (vape) mulai diadopsi secara lebih luas dan Kementerian Kesehatan Selandia Baru secara resmi mengakui bahwa rokok elektronik memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan rokok, sekaligus mendukung penggunaannya sebagai alternatif untuk beralih dari kebiasaan merokok,” kata para peneliti dikutip akhir pekan (9/8).

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore