
Suasana pawai dukungan terhadap MBG di Batam, Kepulauan Riau pada Minggu (21/6). (X: @LambeSahamjja)
JawaPos.com - Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) tampak ikut serta dalam pawai dukungan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Minggu (21/6). Aksi ini sendiri diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Kota Batam.
Hal ini memicu pertanyaan masyarakat lantaran anak-anak diikutsertakan. Bahkan, banyak yang memungkinkan aksi ini mengarah pada eksploitasi anak.
Melihat hal ini, Sylvana Apituley, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan terjadinya mobilisasi ratusan siswa SD hingga SMP ini. Sebab, hal ini masuk pada bentuk eksploitasi dan manipulasi anak.
“Mobilisasi anak seperti yang dilakukan oleh Disdik Kota Batam adalah salah satu bentuk eksploitasi dan manipulasi anak untuk agenda politik orang dewasa. Karena pawai siswa-siswi SD-SMP tersebut diinisiasi dan dipimpin oleh orang-orang dewasa saja,” kata Sylvana saat dihubungi JawaPos.com, Senin (22/6).
Bahkan, dia menegaskan bahwa anak-anak peserta aksi sejatinya tak memiliki akses dan kesempatan untuk memberi input substantif terhadap aksi dan tujuan pawai.
“Selain itu, siswa SD-SMP peserta pawai juga pasti tidak memiliki pengetahuan yang lengkap dan mendalam tentang seluk-beluk kebijakan penghentian MBG yang kompleks di tingkat nasional/di Jakarta,” ungkapnya.
Sylvana menegaskan bahwa Partisipasi Bermakna Anak wajib berlandaskan tujuh prinsip, yaitu aktivitas yang melibatkan anak dilakukan secara etis; Relevan dengan kehidupan anak sehari-hari dan dilaksanakan secara sukarela oleh anak-anak; Lingkungan yang memampukan anak serta aman dan nyaman untuk anak; Anak memiliki akses dan kesempatan yang setara dan ada penghormatan kepada kemajemukan anak serta latar belakangnya.
Serta, keterlibatan orang dewasa wajib dipastikan sesuai prinsip hak anak dan memenuhi standard Child Safe Guarding; Mendorong keselamatan dan perlindungan anak; serta memastikan evaluasi dan tindak-lanjut yang diketahui oleh anak peserta kegiatan/aktivitas.
Dia mengungkapkan Satuan Pendidikan wajib memfasilitasi anak agar dapat berpartisipasi secara bermakna, termasuk dalam hal pengambilan keputusan publik. Anak-anak perlu dilatih agar mampu membangun nalar kritis, memiliki pendapat sendiri serta percaya diri menyampaikan pendapatnya di depan publik secara santun dan tanpa kekerasan.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Laga Hidup-Mati, Siapa Bertahan dari Jurang Eliminasi?
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Skor Argentina vs Austria di Piala Dunia 2026: Menantikan Sihir Lionel Messi Hadapi Das Team
Prediksi Skor Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026: Kylian Mbappe Siap Mengamuk Kalahkan Singa Mesopotamia
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
