
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari. (Dimas Choirul/Jawapos.com)
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mencegah konflik kepentingan dalam pelaksanaan Program MBG.
"Sebenarnya begini ya, hal yang utama itu eh eh adalah BGN pegawai BGN sebagai orang yang mengambil keputusan mengambil kebijakan itu yang tidak boleh punya SPPG. Hm. Ya, karena apa? Karena kan dia mengambil kebijakan," ujarnya usai rapat dengar pendapat (RDP) secara tertutup dengan Komisi IX di Gedung DPR, Jakarta, Senin (15/6).
Menurut Agustina, kebijakan tersebut diperlukan agar tidak ada keputusan yang dibuat berdasarkan kepentingan tertentu. Ia mencontohkan sejumlah aturan teknis yang pernah mengalami perubahan.
"Maka kemudian keluarlah angka Rp6 juta flat diubah dari tadinya 2.000 kali sekian penerima manfaat, dapur dari 400 meter kemudian direvisi menjadi 100 meter kan karena kepentingan," katanya.
Di luar aspek tersebut, Agustina menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah seluruh SPPG mampu memenuhi standar teknis dan kualitas yang ditetapkan pemerintah.
"Kalau yang lain-lainnya, si A, si B, si C, yang penting teknisnya, dapurnya secara teknis memenuhi syarat memenuhi standar kualitas. Nanti kami akan bikin indeks yang baru memenuhi itu, ya sudah. Begitu, poinnya kira-kira gitu," jelasnya.
Lebih lanjut, Agustina menekankan bahwa BGN saat ini tengah melakukan refocusing program dengan menempatkan penerima manfaat sebagai prioritas utama. Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada kuantitas dapur yang dibangun.
"Tapi kembali lagi, jangan dibolak-balik ya. Saya pengin teman-teman memahami betul fokus kami adalah penerima manfaat. Baru ngomong dapur. Dibedakan loh. Kalau yang dulu mungkin ujungnya pokoknya dapur ya, dapur, pokoknya sebanyak mungkin dapur. Kami nggak mau. Pokoknya penerima manfaat dulu kita refocusing, benar-benar yang targeted, yang intervensi pemerintah dalam hal gizi memang memerlukan itu, baru konsekuensinya pasti dapur," tuturnya.
Baca Juga:Sabu di Kunciran Rambut dan Obat Batuk Palsu, Rutan Jakpus Gagalkan 2 Penyelundupan Narkoba Sehari!
Terkait keterbukaan data dan kemungkinan publik mengakses informasi mengenai proses penentuan SPPG ke depan, Agustina mengatakan BGN saat ini masih berfokus pada pembenahan program dan pencapaian target penerima manfaat pada 2026.
"Nanti kita lihatlah ya eh pokoknya kami ini sekarang bicaranya pembenahan dulu ya. Eh 2026 ini target penerima manfaat lalu baru bicara dapur. Nanti kami akan membuat bagaimana mungkin proses ini setransparan mungkin. Ibu dan Bapak bisa mengakses, bisa ikut lihat, bisa ikut mengawasi karena itu adalah program yang strategis," pungkasnya.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
