
Ilustrasi Nahdlatul Ulama. (Dok. JawaPos)
JawaPos.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah kelompok disebut mulai bergerak untuk mendorong perubahan struktur di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tokoh NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, berharap pengaruh kekuasaan negara tidak terlalu jauh masuk dalam proses internal PBNU. Ia menyoroti munculnya narasi mengenai adanya restu penguasa dalam penentuan calon pemimpin PBNU.
"Kita mulai mendengar percakapan tentang siapa yang direstui penguasa, siapa yang dekat dengan presiden, siapa yang mendapat dukungan jaringan negara, bahkan siapa yang dianggap “aman” bagi kekuasaan. Seolah-olah Muktamar NU hanya bisa selesai jika ada lampu hijau dari negara," kata Gus Lilur kepada wartawan, Rabu (30/5).
Menurut Gus Lilur, pandangan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga melukai sejarah NU. Ia menegaskan bahwa NU bukan organisasi yang lahir dari kekuasaan negara.
Baca Juga:Tim Hukum Global Sumud Flotilla Siapkan Langkah Hukum Pasca Penculikan 9 WNI oleh Tentara Israel
"Justru negara ini berdiri karena jasa para ulama NU. Karena itu, terasa tidak pantas apabila pemimpin NU harus terlebih dahulu mendapat restu dari penguasa negara yang negaranya sendiri ikut didirikan oleh para kiai NU," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa para ulama NU sejak awal telah menjaga republik melalui kekuatan moral dan pengaruh keagamaan. Hubungan antara Presiden pertama RI Soekarno dengan pendiri NU KH Hasyim Asy'ari disebut sebagai salah satu contoh nyata kedekatan pemimpin negara dengan ulama.
"Bung Karno berkali-kali datang meminta pandangan kepada Hadratus Syeikh. Dalam banyak catatan sejarah, para pemimpin republik memahami bahwa dukungan ulama NU bukan sekadar dukungan politik, tetapi legitimasi moral bagi berdirinya Indonesia," tuturnya.
"Yang datang kepada kiai adalah presiden. Bukan kiai yang datang meminta restu kepada presiden," sambungnya.
Lebih lanjut, ia menilai NU sejak awal memang memilih dekat dengan rakyat dan negara, tetapi tidak pernah menjadi alat kekuasaan. Menurutnya, sikap tersebut tercermin dalam Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
