
One way dari Tol Cipali ke Kalikangkung saat momen puncak arus mudik Lebaran, Rabu (18/3). (Dok. Jasa Marga)
JawaPos.com–Korlantas Polri bakal menerapkan rekayasa lalu lintas one way nasional untuk mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas di jalan tol. Rencananya, one way nasional mulai berlaku pada Selasa (24/3) atau saat puncak arus balik tahap pertama terjadi.
”Korlantas Polri juga akan menerapkan skema one way nasional untuk arus balik yang direncanakan dimulai pada tanggal 24 (Maret 2026), sesuai arahan kapolri dan hasil koordinasi dengan menteri perhubungan, dirut Jasa Marga, serta Jasa Raharja,” kata Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryo Nugroho dalam keterangan resmi pada Minggu (22/3).
Menurut jenderal bintang dua Polri tersebut, one way merupakan salah satu langkah strategis yang disiapkan instansinya untuk mengantisipasi kepadatan arus balik. Persiapannya sudah dilakukan pada hari ini dan besok (23/3). Semua langkah itu dilakukan berdasar pada data.
”Berdasar hasil analisis dan evaluasi bersama stakeholder, arus balik diperkirakan terbagi dalam dua tahap, yaitu tahap pertama pada tanggal 23–24 (Maret 2026) dan tahap kedua pada tanggal 28–29 (Maret 2026),” ucap Agus.
Untuk menghindari potensi kepadatan saat arus balik, dia sudah meminta masyarakat memaksimalkan Work From Anywhere (WFA) sebagai salah satu kebijakan pemerintah tahun ini. Dengan kebijakan itu, masyarakat bisa mengatur waktu melakukan perjalanan balik.
Sampai hari ini, Agus melihat situasi arus lalu lintas cukup baik dan masih terkendali. Sejak Idul Fitri sampai H+1 atau hari kedua lebaran, tidak terjadi kepadatan yang signifikan. Baik di jalur tol maupun non tol. Namun demikian, pergerakan masyarakat masih terpantau tinggi.
”Pada Operasi Ketupat hari ke-9 atau dua hari setelah lebaran, kondisi arus lalu lintas masih cukup terkendali. Terdapat peningkatan arus sesuai prediksi dan hasil monitoring teknologi. Pergerakan aglomerasi terpantau cukup padat, namun masih dapat dikelola dengan baik,” jelas Agus.
Jenderal bintang dua Polri itu menyampaikan bahwa peningkatan arus tersebut sejalan dengan hasil prediksi dan pemantauan berbasis teknologi, khususnya pada pergerakan aglomerasi di wilayah Semarang Raya, hingga wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).
”Beberapa wilayah yang mengalami peningkatan pergerakan antara lain Semarang Raya, Jabodetabek, serta kawasan wisata di Bali, Malang Raya, Jakarta, dan Jawa Barat. Tempat-tempat wisata tersebut cukup diminati masyarakat yang sedang menikmati masa liburan,” kata Agus.
