
Wamenag Romo Muhammad Syafii mengingatkan peran penting santri dalam menjaga kemerdekaan Indonesia. Itu dia sampaikan dalam acara di Jagakarsa pada Rabu (11/3). (Kemenag)
JawaPos.com - Santri dan pesantren memiliki andil besar dalam menjaga kemerdekaan Indonesia. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii mengingatkan hal itu dalam kegiatan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pondok Pesantren Al-Qur’an dan Sains Nurani (PPQS), Jagakarsa, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Rabu (11/3).
Dalam kegiatan bertema Menjaga Kerukunan Indonesia dari Pesantren itu, Romo Muhammad Syafii menyampaikan bahwa tradisi keberagamaan yang inklusif di pesantren menjadi fondasi penting bagi kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk. Dia menyatakan, pesantren sudah hadir jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan.
”Pesantren lahir jauh sebelum NKRI, dan santri terbukti menjadi pelopor kemerdekaan Indonesia,” ungkap dia.
Romo Muhammad Syafii mengingatkan bahwa sejarah mencatat, para kiai dan alumni pesantren berperan penting dalam menjaga arah kebangsaan setelah kemerdekaan. Salah satu momentum paling penting adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang diperingati sebagai Hari Santri. Sampai hari ini, peran strategis santri dan pesantren di Indonesia masih terus berlanjut.
Baca Juga:Cerita Diandra Salsabila Beradu Akting dengan Aktor Cok Simbara di Petualangan Rahasia Queena
”Para kiai dan alumni pesantren ikut menjaga NKRI hingga puncaknya pada 22 Oktober 1945 yang dikenal dengan Resolusi Jihad dan Hari Santri,” imbuhnya.
Menurut dia, kehidupan pesantren telah membentuk karakter santri. Mereka terbiasa hidup dalam keragaman. Nilai inklusivitas tersebut menjadi kekuatan penting dalam merawat persatuan Indonesia. Sebab, alumni pesantren sudah terbiasa dengan perbedaan. Bahkan mengerti betul bahwa perbedaan adalah fitrah dan wujud keragaman Indonesia.
”Perbedaan adalah fitrah dan keragaman adalah corak Indonesia yang harus dipertahankan sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika,” kata dia.
Pejabat yang akrab dipanggil Romo tersebut menyampaikan bahwa , sikap terbuka dan inklusif yang tumbuh di lingkungan pesantren sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Santri diharapkan terus berperan aktif membangun Indonesia serta menjaga persatuan dari berbagai upaya yang dapat merusak keutuhan negara.
”Ciri pesantren adalah inklusif dan ini sangat dibutuhkan oleh negara Indonesia. Tugas kita sebagai santri adalah membangun Indonesia dan menjaga NKRI,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pesantren Basnang Said menjelaskan bahwa Kemenag terus bekerja dan berusaha memperkuat pelayanan dan pengembangan pesantren. Selain menjalankan fungsi pendidikan, pesantren juga didorong menjalankan fungsi dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Itu sesuai dengan amanat undang-undang.
“Harus ada di antara kita yang tafaqquh fiddin (memahami agama secara mendalam, red), tetapi di samping itu juga perlu ada santri yang ahli dalam bidang lain,” kata dia.
