
Menaker Yassierli saat menghadiri Penandatangan Perjanjian Kerja Bersama Periode Tahun 2026-2028 antara PT Jasa Marga Tbk dengan Serikat Karyawan Jasa Marga di Jakarta, Senin (9/2). (Istimewa)
JawaPos.com — Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa peran perusahaan tidak cukup hanya menyediakan lapangan kerja. Dunia usaha juga perlu memberikan ruang bagi pekerja untuk terus berkembang melalui peningkatan keterampilan dan kesempatan belajar.
Menurut Yassierli, pekerja seharusnya tidak berada dalam posisi yang sama selama bertahun-tahun tanpa peluang untuk meningkatkan kapasitas diri, terlebih di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat.
Ia menilai pengembangan pekerja merupakan bagian penting dari terciptanya hubungan industrial yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan. Selain itu, investasi pada peningkatan kemampuan pekerja juga menjadi strategi jangka panjang yang dapat memperkuat daya tahan perusahaan.
“Ini harus kita pahami sebagai sebuah strategi. Ketika kita memampukan pekerja, ketika kita memberdayakan mereka, maka itu akan memberikan long-term effect bagi perusahaan dalam jangka panjang,” ujar Yassierli.
Baca Juga:Menaker Yassierli Tegaskan BHR Ojol Wajib Tunai, Minimal 25 Persen dari Pendapatan Bersih Setahun
Yassierli menjelaskan, pekerja yang merasa didukung oleh perusahaan tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban, tetapi juga memiliki rasa keterikatan dan semangat untuk memberikan kontribusi lebih bagi tempat mereka bekerja.
“Memberdayakan pekerja itu artinya membuat pekerjaan mereka menjadi meaningful. Mereka memiliki engagement, mereka memiliki semangat yang bahkan bisa melampaui sekadar menjalankan tugas mereka,” kata Yassierli.
Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah dalam hubungan antara pekerja dan perusahaan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan sosial yang menjadi karakter bangsa Indonesia dan perlu terus dijaga dalam praktik hubungan industrial.
“Ada yang hilang dari DNA kita. Kita ini bangsa yang punya semangat gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah. Menurut saya DNA ini harus kita bangkitkan kembali,” tuturnya.
Baca Juga:Jadi Tempat Menimba Ilmu dan Pengalaman, Menaker: Jembatan Lulusan Baru Masuk ke Dunia Kerja
Yassierli mengaku prihatin apabila masih terdapat pekerja yang telah bekerja selama satu hingga dua dekade tanpa mengalami perkembangan kemampuan maupun karier. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak seharusnya dianggap sebagai hal yang wajar karena setiap individu memiliki potensi untuk berkembang.
“Yang juga membuat saya sedih adalah ketika ada orang bekerja 10 tahun, bahkan 20 tahun di perusahaan, tetapi tidak berkembang. Padahal manusia itu memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk membantu pekerja mengenali serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan keterampilan.
“Siapa pun punya potensi untuk berkembang. Tugas kita adalah membantu menemukan dan mengoptimalkan potensi itu,” kata Yassierli.
Sebagai contoh, Yassierli mendorong para pekerja di berbagai posisi untuk terus mempelajari hal-hal baru, termasuk keterampilan komputer. Ia menilai kemampuan tersebut penting agar pekerja mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan kerja.
