
Seminar
JawaPos.com – Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025 dipicu oleh curah hujan ekstrem yang jauh melampaui ambang normal, di tengah perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan lebat. Namun demikian, dampak bencana dapat ditekan secara signifikan melalui pengelolaan lanskap yang baik, perlindungan daerah aliran sungai (DAS), serta kolaborasi lintas sektor berbasis sains.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar “Hutan, Air, dan Hukum: Orkestrasi Ilmu untuk Ketahanan Bencana di Sumatera” yang diselenggarakan Dewan Profesor Universitas Padjadjaran, Rabu (7/1/2026) di Bale Rumawat, Universitas Padjajaran Bandung. Seminar menghadirkan pakar lintas disiplin untuk membedah bencana dari perspektif hidrologi, geologi, dan hukum.
Guru Besar Hidrologi Hutan dan Pengelolaan DAS Universitas Padjajaran, Profesor Chay Asdak, menegaskan bahwa hujan ekstrem yang terjadi pada 25–26 November 2025 mencapai lebih dari 300 mm per 24 jam, atau dua kali lipat dari kategori hujan ekstrem yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Seminar “Hutan, Air, dan Hukum: Orkestrasi Ilmu untuk Ketahanan Bencana di Sumatera” yang diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Padjajaran pada Rabu, 7 Januari 2026 di Bale Rumawat, Bandung, Jawa Barat.
“Curah hujan setinggi itu adalah faktor alam yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, yang bisa kita kelola adalah seberapa besar dampak negatifnya. Dengan lanskap yang terkelola baik, banjir tetap terjadi, tetapi tidak berubah menjadi banjir bandang berlumpur yang merusak,” ujar Chay.
Perubahan Tutupan Lahan Perburuk Dampak Bencana
Menurut Chay, banjir bandang dan longsor merupakan hasil kombinasi cuaca ekstrem dan faktor antropogenik, khususnya perubahan tutupan hutan. Data menunjukkan penyusutan hutan yang signifikan di Sumatera dalam tiga dekade terakhir, yang berimplikasi pada meningkatnya limpasan permukaan, erosi, dan sedimentasi sungai.
Mengutip Hasil Jurnalisme Data Harian Kompas, 12 Desember 2025, Chay menyebutkan, dalam kurun waktu antara tahun 1990 – 2024, terjadi penyusutan luas hutan di Aceh sebesar 379.309 hektar, di Sumatera Utara seluas 500.404 hektar, dan di Sumatera Barat sebesar 354.651 hektar.
“Saya melihat bencana Sumatera dengan perspektif hidrologi hutan. Kalau landscape berubah, maka berubah juga perilaku hidrologinya, aliran air permukaan, infiltrasi utamanya dan ketika ini terganggu maka terjadi banjir dan tanah longsor,” kata Chay.
Hutan, menurutnya, bukan sekadar penutup lahan, namun juga sistem hidrologi alami. “Ketika hujan jatuh, energi kinetiknya diredam oleh tajuk, air meresap ke tanah, dan aliran permukaan berkurang,” jelas Chay.
Tutupan yang Terjaga di Kawasan Konsesi
Dalam seminar tersebut, Chay juga memaparkan praktik pengelolaan lanskap yang dinilai baik dan bisa dipelajari, yakni dari Hutan Tanaman Industri yang dikelola PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL). Saat diundang oleh TPL, Chay melihat perusahaan ini berada di wilayah hulu DAS di Sumatera Utara dan dalam pengelolaan hutan tanaman industri, TPL menerapkan fingerstyle forest plantation management.
Fingerstyle Forest Plantation Management, strategi penataan ruang di kawasan Hutan Tanaman Industri yang dikelola oleh PT Toba Pulp Lestari Tbk.
Fingerstyle Forest Plantation Management, strategi penataan ruang di kawasan Hutan Tanaman Industri yang dikelola oleh PT Toba Pulp Lestari Tbk.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, Chay mengatakan bahwa di kawasan konsesi ini, tutupan vegetasi terjaga, juga terdapat zona penyangga (buffer zone) di sepanjang aliran sungai, serta area lindung yang jelas, serta tidak terlihat adanya kerusakan parah meski berada dalam wilayah yang terdampak hujan ekstrem.
“Lokasinya itu sekitar 150 km dari banjir di (Aceh) Singkil, di sana (TPL) ada tanaman fast-growing species (eukaliptus), tutupan hutannya masih bagus, dan kawasan lindung menjadi area yang berfungsi melindungi aliran air, sehingga erosi kalaupun terjadi di tempat itu, akan tercegat oleh buffer zone tadi,” papar Chay.
Restorasi Lansekap DAS
Dalam upaya pengendalian banjir dan tanah longsor, salah satu strategi yang penting dilakukan adalah restorasi lansekap DAS. Sebagai konteks, DAS adalah wilayah yang menyuplai air ke sungai dan anak sungainya, dan perubahan dalam pengelolaan DAS bisa mempengaruhi kemampuan tanah untuk menyerap air, yang akhirnya memengaruhi pola aliran air dan potensi bencana.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
