
Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/2). (Istimewa)
JawaPos.com - Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menegaskan kritik atau evaluasi terhadap kinerja menteri sejatinya merupakan kewenangan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kesalahan seorang menteri tidak bisa dinilai berdasarkan satu peristiwa saja, melainkan harus dilihat dari akar persoalan yang kemungkinan telah berlangsung puluhan tahun.
Pernyataan ini disampaikan Hasan Nasbi menyoroti munculnya saling sindir antara Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PMK) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, setelah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Sebab, Cak Imin mengajak Raja Juli dan Bahlil untuk taubat nasuha. Menurutnya, saling sindir itu dinilai dapat mengaburkan inti persoalan dan tidak membantu penyelesaian masalah.
“Kalau saya sih mau menggaris bawahi dua hal yang berhak memperingatkan anggota kabinet itu bossnya kabinet. Bosnya kabinet itu presiden. Hanya presiden yang bisa memberikan peringatan kepada anggota kabinet, baik itu secara tertutup maupun terbuka. Kalau sesama anggota kabinet itu di ruang tertutup,” kata Hasan Nasbi dalam media sosial TikTok, Minggu (7/12).
Ia menegaskan, adu sindiran di ruang publik hanya akan membuat kabinet terlihat tidak solid. Padahal, negara justru membutuhkan kekompakan dalam penanganan bencana.
“Ketika bukan Pak Purbaya yang menyenggol menteri lain, kelihatan enggak kalau kabinet jadi tidak solid? Kan berbalas-balasannya jadi tidak solid. Padahal kita justru sekarang lagi butuh solid-solidnya ini,” ujarnya.
Hasan mengingatkan, kesalahan dalam penanganan lingkungan maupun banjir tidak bisa langsung ditimpakan kepada satu pihak saja. Terlebih, jika menteri yang disorot baru menjabat sekitar satu tahun.
“Ini bukan kesalahan satu orang dua orang, coba lihat dulu kesalahannya menteri yang bersangkutan? Gara-gara satu kejadian mereka baru jadi menteri satu tahun, bener enggak ini kesalahan mereka?” tegasnya.
“Apakah ini kesalahan kita sudah berpuluh-puluh tahun misalkan. Kita tarik 50 tahun, kita tarik 40 tahun, kita tarik 30 tahun, ini kan yang harus ditelusuri, bener enggak terjadi kesalahan di situ,” tambahnya.
Karena itu, ia meminta agar kritik diarahkan pada penyelesaian jangka panjang dan bukan pada praktik saling menyalahkan antarmenteri.
“Soal pertobatan nasuha ya ayo taubatan nasuha. Semua kita taubatan nasuha tapi dudukkan perkara pada tempatnya, jangan main jurus pukul rata,” pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022