
Foto udara pegunungan pasca longsor dan banjir Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Senin (1/12/2025). (Biro Setpres)
JawaPos.com – Bencana Banjir Sumatera 2025 yang melanda akhir tahun ini menjadi sorotan nasional. Bukan hanya karena dampaknya yang masif, tetapi juga mencuatnya dugaan keterlibatan aktivitas industri ekstraktif sebagai pemicu utama.
Narasi yang berkembang di masyarakat menuding kerusakan lingkungan disebabkan alihfungsi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan aktivitas perusahaan besar memperparah keadaan. Benarkah demikian?
Kepala Kampanye Global untuk Hutan Indonesia dari Greenpeace, Kiki Taufik, menegaskan bahwa menyalahkan hujan semata adalah kekeliruan. Menurutnya, dampak banjir tidak akan semasif ini jika daya dukung lingkungan masih terjaga.
Penyebab utamanya, menurut Kiki, adalah deforestasi masif di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Hutan yang seharusnya menjadi spons alami penyerap air kini telah gundul.
"Nah dari pandangan kami memang tentu ada hal lain yang membuat terjadinya dampak yang begitu masif seperti sekarang. Nah salah satu apa namanya, penyebab utama lainnya menurut kami memang adalah adanya deforestasi yang sangat masif," ungkap Kiki kepada JawaPos.com, Rabu (3/12).
Salah satu bukti visual yang paling mencolok dari banjir bandang Sumatera kali ini adalah banyaknya material kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus.
Kiki menyoroti bahwa puing-puing tersebut bukanlah pohon yang tumbang secara alami karena badai, melainkan jejak aktivitas penebangan.
"Kayu-kayu ini nggak mungkin hanya pohon tumbang karena kita bisa menyaksikan bukti bahwa kayu-kayu itu terpotong dengan baik. Jadi ini pasti adalah adanya penebangan hutan," tegasnya.
Penebangan ini disinyalir berasal dari pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, hutan tanaman industri (pulp and paper), hingga pertambangan dan proyek infrastruktur seperti PLTA.
Salah satu terparah berada kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Wilayah Batang Toru sendiri telah dikepung oleh berbagai industri ekstraktif lainnya. Diantaranya:
1. PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL) – Unit PKR di Tapanuli Selatan
2. PT Sago Nauli Plantation – Perkebunan sawit di Tapanuli Tengah
3. PTPN III Batang Toru Estate – Perkebunan sawit di Tapanuli Selatan
4. PT Agincourt Resources – Tambang emas Martabe
5. PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) – PLTA Batang Toru
6. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power – PLTMH Pahae Julu.
7. PT SOL Geothermal Indonesia – Geothermal Taput
"Di Batang Toru ini di lokasi di Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah ini memang banyak sekali industri ekstraktif," jelasnya.
Situasi lingkungan di Sumatera memang sudah di tahap "lampu merah". Berdasarkan data Greenpeace, tutupan hutan alam di Pulau Sumatera kini berada di angka yang sangat mengkhawatirkan.
