
Program Kosabangsa 2025 yang diinisiasi oleh DIKTISAINTEK membangun masyarakat di Kawasan 3T pada sektor pertanian, pendidikan, kesehatan demi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.
JawaPos.com - Kabupaten Jembrana terletak di ujung barat Pulau Dewata, memiliki iklim yang sejuk dan sangat cocok untuk budidaya kakao. Potensi daerah ini dimanfaatkan oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawandengan mencanangkan Jembrana sebagai kota kakao karena memiliki hasil kakao terbaik di Bali dan Indonesia.
Lewat program itu, Bupati mewajibkan setiap rumah, lembaga pemerintahan, swasta dan institusi pendidikan menanam kakao di sekitar halaman depan atau belakang. Desa Warnasari Kelod, salah satu desa yang sangat subur mewujudkan program pemda. Mata pencaharian utama masyarakat adalah sebagai petani yang bercocok tanam padi, berkebun kakao dan pisang serta memelihara ternak sapi.
Penduduk desa ini adalah transmigran dari bagian timur Pulau Bali, yang mendapatkan dua hektar tanah dan sepuluh are lahan rumah. Pemanfaatan lahan perkebunan untuk kakao, lahan rumah masih belum dikelola maksimal. Banyak halaman belakang rumah yang kosong dan hanya menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga; yang seharusnya potensi untuk pangan lestari.
Program Kosabangsa 2025, adalah sebuah program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh DIKTISAINTEK untuk membangun masyarakat di Kawasan 3T pada sektor pertanian, pendidikan, kesehatan demi ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat.
Program Kosabangsa ini diraih oleh Universitas Triatma Mulya melalui seleksi yang cukup ketat. Ketua Pelaksana Dr. Ni Luh Putu Agustini Karta dari Universitas Triatma Mulya, beranggotakan Dr. I Made Aditya Dharma dan Dr. I Ketut Sutapa; didampingi oleh Prof. Dr. I Ketut Sumantra, anggota Prof. Dr. I Ketut Widnyana dan Dr. Putu Sekarwangi Saraswati dari Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Kegiatan ini berusaha untuk mensolusi berbagai permasalahan yang dihadapi para petani kakao di desa Warnasari Kelod Melaya Jembrana. Berawal dari wabah demam berdarah dengue yang menyerang warga desa Warnasari pada tahun 2024, mencapai jumlah tertinggi di kabupaten Jembrana.
Penyebabnya adalah nyamuk Aedes Aegipti yang bersarang pada sampah kulit kakao yang dibuang di areal perkebunan dan pekarangan rumah penduduk. Genangan air pada kulit kakao ini sangat jernih dan disukai oleh nyamuk untuk bertelur, berkembang menjadi larva dan nyamuk dewasa.
Pada kegiatan pengabdian ini, UNTRIM Bersama UNMAS berinovasi menciptakan beberapa produk dan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Produk yang dihasilkan pada kegiatan ini diantaranya pakan ternak berbahan dasar dari kulit kakao, pupuk organic cair, pestisida nabati, pembuatan teba modern pada setiap rumah serta sepanjang jalan desa.
Untuk menghasilkan kakao kualitas super, petani juga diajarkan metode sambung pucuk tanaman kakao dan metode fermentasi biji kakao. Kelompok tani yang dilibatkan dalam kegiatan ini ada dua yakni kelompok tani kakao Phalakarya dan kelompok pengelola sampah Desa Warnasari.
Kelompok Phalakarya yang diketuai oleh Bapak Arjaya juga menjabarkan bahwa kakao mereka banyak diserang oleh hama tupai, melalui program Kosabangsa 2025 ini, mahasiswa dan dosen Prodi Teknik Elektro Universitas Triatma Mulya mengupayakan pembuatan mesin inovasi pengusir tupai.
Hasil karya mesin ini juga sangat mumpuni untuk mengusir tupai dengan menggunakan suara pada frekuensi tertentu. Sebanyak 21 unit alat pengusir tupai dipasang pada setiap lahan perkebunan warga, dengan daya jangkau mencapai 50 meter.
Dampak dari kegiatan ini sangat dirasakan oleh masyarakat desa, hasil pakan ternak yang diujicobakan terhadap ternak mereka, memberi hasil positif, pembuatan pupuk organic cair melalui program Si-Otong juga memberi dampak positif.
Setiap ibu rumah tangga mampu memproduksi pupuk cair untuk skala rumah tangga bahkan dijual ke BUMDES dan koperasi. Teba modern yang terpasang pada setiap rumah warga serta di pinggiran jalan desa membantu masyarakat dalam menanggulangi sampah rumah tangga sekaligus memproduksi kompos. Tidak ada lagi genangan air pada kulit-kulit kakao yang tersebar di perkebunan dan di rumah warga. Nyamuk tidak ada tempat untuk bersarang dan membiakkan larvanya.
Dari kiri ke kakan: Bapak Arjaya, Bapak Rama Wilasa, Dr. Aditya Dharma, Dr. Ni Luh Putu Agustini Karta, Prof. I Ketut Sumantra, Dr.Putu Sekarwangi Saraswati dan Prof I Ketut Widnyana. (Istimewa).
Dari kiri ke kakan: Bapak Arjaya, Bapak Rama Wilasa, Dr. Aditya Dharma, Dr. Ni Luh Putu Agustini Karta, Prof. I Ketut Sumantra, Dr.Putu Sekarwangi Saraswati dan Prof I Ketut Widnyana.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
