
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKB, Ratna Juwita Sari. (Istimewa)
JawaPos.com - Meski permohonan maaf telah disampaikan secara resmi oleh pihak Trans7, namun gelombang kritik dan kecaman terhadap tayangan program Xpose Uncensored Trans7 belum mereda. Terbaru, legislator asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ratna Juwita juga menyampaikan kritiknya.
Kritik itu disampaikan oleh Ratna lantaran tayangan yang menuai reaksi dari kalangan santri dan alumni pondok pesantren (ponpes) dinilai telah melecehkan kyai dan pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur (Jatim). Menurut dia, tayangan itu menunjukkan kurangnya pemahaman media terhadap tradisi dan kultur pesantren.
”Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi pusat pembentukan karakter dan moral bangsa. Yang ditampilkan dalam tayangan itu tidak hanya menyakitkan para santri, tapi juga menyinggung perasaan umat Islam yang menjunjung tinggi kehormatan para kyai,” ungkap Ratna dalam keterangan resmi pada Rabu (15/10).
Menurut anggota Komisi XII DPR tersebut, media seperti Trans7 seharusnya menjadi mitra dalam membangun kesadaran publik, bukan malah menyebarkan stigma negatif terhadap lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pesantren, bahkan mendiskreditkan kyai.
”Media seharusnya memberi panggung kepada pesantren untuk memperkenalkan tradisi dan budaya mereka. Tidak semua hal yang ada di pesantren bisa dijelaskan dengan nalar biasa, apalagi oleh mereka yang bukan bagian dari komunitas santri,” terang dia.
Dalam keterangan tersebut, Ratna juga mengutip pandangan pandangan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menyebut pesantren sebagai subkultur, sebuah entitas sosial dengan sistem nilai, kebiasaan, dan cara hidup tersendiri yang berbeda dari masyarakat umum.
”Kata Gus Dur, pesantren punya ciri khas kepemimpinan kyai, kehidupan bersama, dan keseimbangan antara pendidikan agama dan umum. Inilah yang membentuk karakter keindonesiaan yang santun dan religius,” jelasnya.
Untuk itu, Ratna mengajak media dan seluruh insan pers berkolaborasi dengan pesantren, membuka ruang dialog, dan menghadirkan konten edukatif yang menampilkan wajah pesantren yang sesungguhnya. Yakni wajah yang penuh nilai kemanusiaan, cinta ilmu, dan kebangsaan.
”Daripada memframing negatif, akan jauh lebih baik jika media membantu memperluas wawasan publik tentang pesantren. Di sanalah kita belajar tentang ketulusan, kemandirian, dan cinta tanah air,” seru Ratna.
Lebih lanjut, Ratna berharap besar kegaduhan yang muncul akibat tayangan program Xpose Uncensored Trans7 menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam memproduksi tayangan publik. Apalagi yang berkaitan langsung dengan institusi keagamaan dan tokoh-tokoh yang dihormati oleh umat.
”Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tapi benteng moral bangsa. Media harus menjadi jembatan pemahaman, bukan sumber kesalahpahaman,” pungkasnya.

Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026, Bruno Moreira Siap Hadapi Teror Bonek!
Iran Ubah Strategi Perang, Teheran Kini Sengaja Paksa AS Masuk ke Konflik Lebih Besar
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026, Kesempatan Terakhir Macan Kemayoran ke Semifinal
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
