Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Agustus 2025 | 01.15 WIB

Kritik PGI ke DPR, Jangan Politisir Luka yang Kalian Torehkan

Sejumlah personel Brimob berjaga saat kerusuhan di Mako Brimob di Kwitang, Jakarta, Jumat (29/08/2025). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Gelombang demonstrasi di sejumlah kota yang berujung anarkistis tidak terlepas dari sikap arogansi wakil rakya di DPR. Apalagi aksi demo itu telah memakan korban jiwa. Tidak hanya Affan Kurniawan yang merupakan driver ojek online (ojol), ada juga beberapa korban lain di Jakarta dan kota lainnnya.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt Jacklevyn Manuputty menyampaikan keprihatinan terhadap situasi yang terjadi saat ini. Dia menilai konflik yang muncul dalam aksi massa sering kali menempatkan aparat dan masyarakat sebagai pihak yang berhadap-hadapan, sementara politisi justru lepas dari tanggung jawab. 

“Para politisi berulah, aparat, dan masyarakat berhadap-hadapan lalu menjadi korban. Dan seperti biasanya, kebanyakan politisi tampil dengan cengengesan di depan kamera dan mikrofon, memberi sambutan lalu melupakan,” tegas Manuputty dalam akun media sosialnya. 

Lebih lanjut ia menekankan, bangsa ini tidak bisa dibangun dengan pendekatan represi terhadap suara rakyat. Menurutnya, kemarahan publik yang tersalurkan dalam aksi massa harus dipahami sebagai bentuk refleksi dan dorongan perubahan, bukan ancaman. 

“Bangsa ini harus dibangun bukan dengan represi tetapi refleksi. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keberanian untuk berubah. Suara rakyat bukan untuk dibungkam, tetapi untuk didengar, dipahami dan dijadikan arah,” ujarnya. 

Manuputty juga mengingatkan agar para politisi tidak keliru membaca situasi dengan menjadikan kemarahan rakyat sebagai sekadar alat politik. Ia menilai keresahan publik lahir dari akumulasi janji yang tidak ditepati, kebijakan yang melukai, dan kepemimpinan yang lalai. 

“Semoga para politisi tidak menafsirkan kemarahan rakyat sebagai alat politik. Jangan pura-pura lupa, kemarahan rakyat bukan datang dari ruang kosong. Ia lahir dari janji-janji yang dikhianati, dari kebijakan yang menyakiti, dari kepemimpinan yang abai. Jangan mempolitisir luka yang kalian torehkan,” tegasnya. 

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan publik kepada DPR untuk melakukan perbaikan, terutama terkait transparansi dan akuntabilitas anggaran, termasuk fasilitas mewah yang dinilai tidak sejalan dengan realitas hidup masyarakat.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore