
Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo, DIY, berpotensi terdampak bika kereta cepat Jakarta-Surabaya terealisasi dan beroperasi. (Andreas Fitri Atmoko/Antara)
JawaPos.com - Rencana pembangunan kereta cepat Jakarta–Surabaya mendapat kritik keras dari pakar transportasi Djoko Setijowarno.
Ia menilai proyek ambisius ini berpotensi mengulang masalah yang sudah terjadi pada kereta cepat Jakarta–Bandung, mulai dari okupansi penumpang yang rendah hingga risiko menyingkirkan moda transportasi lain.
Menurut Djoko, salah satu dampak paling serius adalah ancaman terhadap keberlangsungan angkutan udara. apalagi, Jakarta-Surabaya selama ini dikenal sebagai rute gemuk.
“Begini, kereta cepat itu menghilangkan angkutan udara. Di mana-mana begitu. Paris–Brussel, tiga bulan hilang. Korea juga sama, Seoul–Busan, udaranya hilang,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com.
Djoko menyoroti kondisi sejumlah bandara internasional yang kini terbengkalai setelah dibangun dengan investasi besar, seperti Kertajati di Majalengka, Yogyakarta International Airport (YIA), Ahmad Yani di Semarang, hingga Dhoho di Kediri.
Kehadiran kereta cepat Jakarta–Surabaya, menurutnya, bisa membuat bandara-bandara itu semakin tak berfungsi. Lagi-lagi, hanya buang uang, sudah APBN tekor, ketambahan pemborosan bandara mangkrak.
“Jangan sampai bandara sudah mangkrak, kereta cepatnya juga mangkrak. Nggak ada yang naik, tapi bayar utang jalan terus,” tegas Djoko.
Bila harga tiket bersaing, maka masyarakat berpotensi beralih dari angkutan udara ke kereta. Namun sebaliknya, bila harga tiket terlalu tinggi, akan sulit memenuhi okupansi.
Djoko memperkirakan harga tiket kereta cepat Jakarta–Surabaya bisa mencapai Rp 1 juta lebih, setara harga tiket pesawat. Kondisi ini dinilai rawan membuat masyarakat enggan beralih ke kereta. Jika penumpang sepi, beban utang justru akan semakin berat.
Lebih jauh, Djoko mempertanyakan sumber pendanaan proyek yang diperkirakan akan tetap membebani APBN melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
“Kalau APBN tekor, siapa yang mau membiayai? Konsorsium luar negeri pun tetap minta jaminan APBN,” katanya.
Ia juga mengkritik arah pembangunan yang disebutnya terlalu 'Java Sentris', sementara kebutuhan transportasi di luar Jawa masih banyak yang terabaikan.
Padahal, banyak wilayah penghasil mineral seperti Morowali dan Halmahera masih minim akses transportasi umum.
Djoko juga mengingatkan, keberhasilan kereta cepat di negara lain seperti Shanghai–Beijing di Tiongkok tidak bisa dijadikan patokan.
Atau di negara manapun yang sudah sukses dengan kereta cepatnya, semua punya masalahnya sendiri-sendiri.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
