Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Agustus 2025 | 22.54 WIB

Waspadai Air Isi Ulang Sembarangan: 8 dari 10 Sampel Terbukti Terkontaminasi Bakteri

Wuhgini, Sanitarian Ahli Muda Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya isi air ulang sembarangan. (Istimewa) - Image

Wuhgini, Sanitarian Ahli Muda Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya isi air ulang sembarangan. (Istimewa)

JawaPos.com-Di tengah tingginya konsumsi air minum isi ulang sebagai pilihan terjangkau bagi masyarakat, temuan terbaru justru menunjukkan bahwa mayoritas air galon yang beredar belum tentu aman dikonsumsi. 

Banyak depot air minum isi ulang (Damiu) ternyata belum memenuhi standar kebersihan dan prosedur pengujian yang memadai. Hasil pengujian laboratorium Yayasan Jiva Svastha Nusantara di Kota Bandung mengungkapkan bahwa 84,9 persen sampel air minum rumah tangga dan 84,7 persen air dari depot isi ulang terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E.coli) dan/atau coliform. 

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa masalah mutu air minum bersifat sistemik dan memerlukan respons menyeluruh. Sebagai respons, Jiva Svastha Nusantara mengadakan penyuluhan masyarakat di Kelurahan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Dalam kegiatan bertajuk Indonesia Sehat Mulai dari Air Bermutu itu, warga, mayoritas ibu rumah tangga dan anggota PKK, dibekali pengetahuan tentang air minum yang aman serta praktik menyimpannya secara higienis di rumah.

Sanitarian Ahli Muda dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan Wuhgini, yang menjadi narasumber, mengingatkan bahwa kejernihan air secara fisik belum menjamin keamanan secara mikrobiologis.

“Air minum yang layak harus lolos tiga parameter: fisik, kimia, dan mikrobiologi. Karena itu, perlu uji laboratorium untuk mendeteksi keberadaan bakteri atau bahan kimia berbahaya,” jelas Wuhgini, Jumat (1/8).

Dia juga menyarankan masyarakat untuk lebih jeli dalam memilih Damiu. Beberapa indikator dasar yang bisa dilihat antara lain apakah depot rutin menguji air di laboratorium terakreditasi, memiliki Sertifikat Laik Hygiene dan Sanitasi (SLHS), serta menjaga kebersihan fasilitas dan personelnya.

“Selain itu, menyimpan galon terlalu lama baik di rumah maupun di depot sangat tidak disarankan. Semakin lama disimpan, semakin tinggi risiko kontaminasinya,” tambah Wuhgini.

Konsumsi air tercemar bukan sekadar soal rasa tidak nyaman. Menurut Wuhgini, air minum yang tidak layak bisa memicu penyakit seperti diare, kolera, hepatitis, bahkan stunting jika terjadi terus-menerus pada anak-anak.

Surya Putra, Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan di Yayasan Jiva Svastha Nusantara, menegaskan bahwa edukasi air minum harus sampai ke tingkat rumah tangga.

“Kami ingin warga jadi lebih peka terhadap apa yang dikonsumsi. Hal-hal sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun, membersihkan dispenser, atau berani bertanya tentang sumber air adalah langkah nyata dalam perlindungan diri,” ujar Surya Putra.

Dialog antara warga dan penyelenggara program juga menjadi bagian penting dalam penyuluhan ini. Sejumlah warga menyampaikan keresahan soal depot air yang terlihat kurang higienis, namun tetap beroperasi tanpa pengawasan berarti.

Kondisi ini mencerminkan lemahnya sistem pengawasan serta kurangnya informasi yang sampai ke konsumen. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk tidak hanya pasif sebagai konsumen, tapi juga aktif dalam mengawasi praktik Damiu di lingkungannya dan memperjuangkan hak atas air minum yang aman.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore