
Ilustrasi kemiskinan. (Istimewa)
JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan bahwa pengeluaran Warga Negara Indonesia (WNI) di bawah Rp 609.190 per bulan masuk dalam kategori penduduk miskin.
Batas pengeluaran yang biasa disebut garis kemiskinan itu naik 2,34 persen dibandingkan dengan September 2024.
Hal ini sebagaimana hasil dari Sensus Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang pendataannya dilakukan pada bulan Februari tahun 2025, dengan jumlah sampel sebanyak 345.000 rumah tangga yang tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten kota.
"Kita ketahui bersama bahwa yang dinamakan penduduk miskin adalah pada saat dia pengeluarannya berada di bawah garis kemiskinan," kata Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono, dikutip Minggu (27/7).
Dalam Susenas Maret 2025 juga ditetapkan batas minimal pengeluaran seseorang untuk disebut miskin di perkotaan dan perdesaan. Seseorang bisa disebut warga miskin perkotaan, apabila pengeluarannya berada di bawah Rp 629.561 per bulan.
Sedangkan untuk seseorang bisa disebut warga miskin di perdesaan, yakni mereka yang pengeluarannya berada di bawah Rp 580.349 per bulan. Sementara itu, komoditas makanan berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan dibandingkan dengan komoditas bukan makanan.
Komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 454.299 atau 74,58 persen, sedangkan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 154.861, atau 25,42 persen.
Pada Maret 2025, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.
Bahkan, beras masih memberi sumbangan terbesar, yakni sebesar 21,06 persen di perkotaan dan 24,91 persen di perdesaan.
"Selanjutnya, disusul oleh pengeluaran rokok kretek filter yang memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan sebesar 10,72 persen di perkotaan dan 9,99 persen di perdesaan," jelas Ateng.
Komoditas lainnya adalah telur ayam ras yang menyumbang andil 4,50 persen di perkotaan dan 3,62 persen di perdesaan. Lalu, daging ayam ras andil 4,22 persen di perkotaan dan 2,98 persen di perdesaan.
Mi instan andil 2,47 persen di perkotaan dan 2,08 persen di perdesaan, sedangkan kopi bubuk dan kopi instan andil 2,29 persen di perkotaan dan 2,16 persen di perdesaan.
Adapun komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar, baik pada garis kemiskinan perkotaan dan perdesaan, adalah perumahan. Yakni sebesar 9,11 persen di perkotaan dan 8,99 persen di perdesaan.
"Bensin 3,06 persen di perkotaan dan 3,03 persen di perdesaan, dan listrik andil sebesar 2,58 persen di perkotaan dan 1,52 persen di perdesaan," pungkasnya.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
Ikhwan Ali Tanamal Resmi Gabung Persib Bandung, Siap Bekerja Keras Rebut Tempat di Tim Utama
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Prediksi Skor Persib Bandung vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Maung Bandung Masih Terlalu Perkasa?
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
