
Ilustrasi lulusan muda sulit mencari pekerjaan (Dok. Freepik)
JawaPos.com – Krisis kesejahteraan kaum muda di Indonesia semakin nyata seiring terbatasnya lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi.
Salah satu lulusan muda asal Indonesia yang merupakan seorang sarjana hukum dimana lulus dua tahun lalu, menjadi contoh nyata bagaimana gelar tidak menjamin masa depan cerah.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Jumat (25/7), lulusan muda itu telah gagal dalam ujian Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan upayanya menjadi jaksa magang pun kandas. Kini, ia hidup bersama orang tuanya dan membantu menjaga toko sembako tanpa digaji.
Kondisi ini bukan kasus tunggal. Menurut data pemerintah, sekitar 16 persen pemuda Indonesia usia 15–24 tahun tidak memiliki pekerjaan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Baca Juga: Media Asing Sorot Istri Kaesang Pangarep, Beasiswa S-2 Milik Erina Gudono Terancam Dicabut
Banyak lulusan muda akhirnya bekerja di sektor informal, atau memilih tidak bekerja sama sekali karena rendahnya upah yang ditawarkan.
Beban semakin berat karena mayoritas pekerjaan yang tersedia bersifat tidak stabil dan tidak menawarkan jaminan sosial.
Sekitar 56 persen tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor informal. Meskipun angka pengangguran terbuka menurun, para ahli menegaskan bahwa ini belum mencerminkan membaiknya kualitas pasar kerja secara menyeluruh.
Kondisi ini diperparah oleh ketimpangan sistem pendidikan dan ketenagakerjaan. Banyak lulusan pendidikan tinggi tidak terserap karena kompetensi mereka tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
Ditambah lagi, belum banyak tersedia program pelatihan vokasi atau pemagangan yang memadai seperti di Malaysia atau Vietnam, yang mampu menjembatani lulusan dengan dunia kerja.
Presiden Prabowo Subianto telah mengakui persoalan pengangguran dan membentuk gugus tugas untuk menciptakan lapangan kerja.
Namun, kebijakan ini belum menunjukkan dampak signifikan bagi generasi muda. Di sisi lain, pemangkasan anggaran layanan publik justru memicu keresahan dan protes mahasiswa, menandakan bahwa krisis kesejahteraan tak bisa diabaikan.
Kesenjangan wilayah juga memperburuk situasi. Akses terhadap pekerjaan layak jauh lebih sulit di luar Pulau Jawa.
Lulusan muda di Indonesia juga tengah menghadapi peluang kerja yang sangat terbatas meskipun memiliki gelar sarjana dan pengalaman kerja tambahan. Bahkan lamaran kerjanya sebagai pengisi ulang ATM pun tak mendapat tanggapan.
Banyak anak muda kini terjebak dalam lingkaran frustrasi dan keputusasaan. Andreas merasa semua usaha kerasnya selama kuliah, termasuk mengambil modul saat liburan agar cepat lulus, belum membuahkan hasil.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
