
Ilustrasi PHK. (Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Ekonom Raden Pardede mengakui saat ini arah belanja pemerintah masih lebih dominan untuk konsumsi. Sehingga belum mampu menciptakan dampak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, salah satunya penciptaan lapangan kerja masif.
Hal itu disampaikan Raden saat menanggapi pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang dinilai lebih banyak ditopang konsumsi musiman dan belanja pemerintah ketimbang sektor produktif.
"Nah, kalau dilihat sekarang, ke arah mana arah belanja kita? Arah belanja kita terus terang sekarang ini lebih ke arah konsumtif semuanya, which is is not sustainable," ujarnya dalam acara SMBC Indonesia 'Economics Forum' di Jakarta, Selasa (19/5).
Menurut dia, pemerintah sebaiknya memberikan ruang lebih besar kepada sektor swasta untuk menggerakkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.
"Itu sebabnya saya katakan tadi, the private punya ruang di situ. Why not give it to the private sector? Karena government sudah fokus di belanja sosial, membantu orang miskin. Nah, untuk menggerakkan ekonomi keseluruhan yang sustainable yang memberikan lapangan kerja, let the private do it," kata Raden.
Ia juga mencontohkan belanja infrastruktur sebagai bentuk pengeluaran yang lebih produktif dibanding belanja konsumtif jangka pendek.
“Sekarang ini spending kita banyak ke lihat program Makan Bergizi Gratis (MBG), itu lebih banyak konsumtif ya. It's not bad juga. Itu bagus untuk diarahkan kepada memberikan gizi tadi itu. Nah, sebetulnya government bisa juga sebagian menurut saya ke infrastruktur,” ujarnya.
Menurut Raden, pembangunan infrastruktur akan memberikan dampak ekonomi jangka panjang karena mampu menurunkan biaya transportasi dan mempercepat mobilitas barang maupun manusia.
"Infrastruktur itu kita membangun infrastruktur sekarang, di-spending sekarang, hasilnya itu, itu tahun depan, 2 tahun lagi, 3 tahun lagi. Karena dengan demikian cost dari transportasi itu akan turun. Kita akan bisa memobilisasi manusia berjalan dengan cepat dan barang bisa berjalan dengan cepat. Nah, itu adalah perbedaan antara produktif dengan yang lebih konsumtif gitu," katanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
