
Ilustrasi merek beras terbukti tidak sesuai dengan mutu. (www.pexels.com)
JawaPos.com – Beras merupakan bahan pokok utama di sebagian besar rumah tangga Indonesia.
Sayangnya, popularitas beras sebagai makanan pokok juga membuka peluang bagi oknum nakal untuk mencari untung dengan cara curang, salah satunya dengan menjual beras oplosan.
Beras oplosan adalah campuran dari beberapa jenis beras dengan kualitas berbeda, bahkan bisa jadi mengandung pemutih sintetis, atau pewangi buatan untuk membuatnya tampak menarik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan 212 merek beras dari 268 yang diuji di laboratorium terbukti tidak sesuai dengan mutu, takaran, dan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Temuan berasal dari hasil pengawasan di 10 provinsi bersama Satgas Pangan, Kejaksaan, dan Badan Pangan Nasional, dan langsung dilaporkan kepada Kapolri serta Jaksa Agung untuk ditindaklanjuti.
Konsumen yang tidak waspada bisa tertipu dan mengkonsumsi produk yang tidak layak atau bahkan berbahaya.
Menurut riset Food Safety Authority dan laporan dari Badan POM RI pada 2024, beras oplosan dapat mengandung zat tambahan kimia seperti klorin atau pemutih tekstil yang berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Dampak beras oplosan antara lain iritasi lambung, gangguan hati, dan paparan toksik kronis.
Agar tidak menjadi korban, berikut tips cerdas mengenali dan menghindari beras oplosan untuk konsumen rumah tangga:
Beras asli memiliki warna putih alami, sedikit transparan dan tidak terlalu mengilap. Jika beras terlihat terlalu putih atau mengilap berlebihan, bisa jadi telah dicampur pemutih atau polesan kimia.
Beras asli biasanya tidak memiliki bau tajam. Bila tercium aroma yang sangat wangi dan tidak natural (seperti parfum atau pewangi ruangan), patut dicurigai beras tersebut telah dicampur bahan pewangi buatan.
Harga beras yang terlalu murah di bawah harga pasar bisa menjadi indikasi bahwa beras tersebut adalah hasil oplosan atau campuran kualitas rendah. Bandingkan dengan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Pilih membeli beras dari toko yang terpercaya atau langsung dari petani/penyedia beras organik. Banyak koperasi petani atau UMKM kini menyediakan beras tanpa proses tambahan dan lebih transparan asal-usulnya.
Konsumsi jangka panjang beras oplosan yang mengandung zat pemutih dapat menyebabkan penurunan fungsi hati dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap efek ini.
Menghindari beras oplosan bukan hanya soal kualitas makanan, tapi juga menyangkut kesehatan jangka panjang.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
