
ILUSTRASI: Pengangguran. (Sumber foto: Dimas Pradipta/JawaPos.com)
JawaPos.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mengungkapkan keprihatinannya atas tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi. Hal itu disampaikan menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat sebanyak 1,01 juta pengangguran di Indonesia per Februari 2025 berasal dari jenjang pendidikan sarjana.
“Lebih dari 1 juta sarjana menganggur? Ini ironi besar di tengah bonus demografi yang katanya menjadi peluang untuk Indonesia Emas,” kata Nurhadi kepada wartawan, Minggu (6/7).
Nurhadi menyesalkan alokasi anggaran triliunan rupiah untuk pendidikan tinggi yang tak berbanding lurus dengan keterserapan tenaga kerja. Pemerintah justru gagal memastikan lulusan perguruan tinggi memiliki kecakapan sesuai kebutuhan dunia kerja.
"Kita sedang menghadapi situasi absurd. Negara mengeluarkan triliunan rupiah untuk pendidikan tinggi, tapi hasilnya justru ‘parkir’ jadi pengangguran," tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena gaji sarjana yang tak jauh berbeda dengan lulusan SMA sebagai bentuk ketidakadilan. Menurutnya, hal tersebut bukan efisiensi, melainkan bentuk perampasan atas hak dan martabat kaum intelektual.
“Kalau lulusan S1 dipaksa kerja dengan upah setara lulusan SMA, itu bukan efisiensi, itu perampasan martabat intelektual!” tegas Nurhadi.
Nurhadi mengingatkan, negara wajib hadir menjamin hak-hak dasar warga, termasuk sarana hidup layak di luar kota besar. Ia menekankan, kekurangan fasilitas dasar di daerah juga membuat lulusan enggan kembali ke kampung halaman.
"Kalau daerah tak manusiawi buat hidup, jangan salahkan anak muda yang enggan tinggal di sana. Pemerintah jangan cuma nyuruh pindah ke desa, tapi fasilitas hidup di desa tidak dapat menjangkau kebutuhan mereka,” jelasnya.
Ia menyebut, saat ini Indonesia sedang berada di situasi panen sarjana tapi ladangnya kosong. Ia menyesalkan tindakan Pemerintah yang gagal mengantisipasi kebutuhan kerja bagi angkatan muda berpendidikan tinggi.
“Kita ini sedang panen sarjana tapi ladangnya kosong! Seharusnya Pemerintah sudah mempersiapkan sejak jauh hari demi memberdayakan SDM-SDM muda Tanah Air,” ujar politisi dari Fraksi NasDem tersebut.
Karena itu, Nurhadi mendorong reformasi sistem ketenagakerjaan dan pendidikan vokasional yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Ia mengingatkan, jika dibiarkan, pengangguran sarjana bisa menjadi ancaman sosial.
"Kami tak akan diam melihat angka 1 juta sarjana menganggur. Ini bukan sekadar masalah ekonomi, ini bom sosial, ini bentuk pengabaian terhadap generasi emas bangsa," pungkasnya.
Adapun, dalam laporan BPS yang dipaparkan oleh Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun INDEF 2025 (2/7), jumlah total pengangguran nasional mencapai 7,28 juta orang. Dari angka tersebut, lulusan SD-SMP menyumbang 2,42 juta pengangguran, disusul SMA 2,04 juta, SMK 1,63 juta, sarjana 1,01 juta, dan diploma sebanyak 177,39 ribu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022