
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat mengkritisi soal sistem pendidikan Indonesia. (YouTube Lembur Pakuan Channel).
JawaPos.com - Dunia pendidikan Indonesia kembali diwarnai kisruh dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2025. Di tengah polemik praktik “titip kursi”, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara dengan nada tegas dan lantang.
Ia mengeluarkan peringatan keras agar tidak ada lagi jalur belakang dalam penerimaan siswa baru, terutama di tingkat SMA, SMK, dan SLB.
“Gak boleh tuh sekolah atas nama, atas nama, titip-titip ke kepala sekolah. Gak boleh!” ujar Dedi dalam unggahannya di Instagram @dedimulyadi71, Kamis (12/6).
Pernyataan ini datang di tengah kekacauan SPMB di berbagai daerah, di mana muncul dugaan adanya praktik prioritas gelap, calo kursi, dan perlakuan istimewa terhadap anak-anak pejabat dan konglomerat.
Dalam sorotan tajam masyarakat yang geram dengan ketidakadilan, Dedi Mulyadi menjadi satu dari sedikit pejabat publik yang berani bersuara.
“Semua siswa harus diperlakukan sama. Tidak ada kasta dalam pendidikan. Tidak ada anak pejabat yang bisa menyundul aturan!” tegas mantan Bupati Purwakarta ini.
Ia juga menyentil praktik pungutan liar yang masih membayangi proses pendaftaran. Dedi memastikan bahwa pendidikan menengah di bawah naungan Pemprov Jabar 100 persen gratis, mulai dari pendaftaran hingga lulus.
“Untuk SMA dan SMK di bawah Pemprov Jabar, tidak boleh ada pungutan, bahkan sepeser pun! Sampai mereka tamat kelas 3, itu tanggung jawab negara!” tegasnya lagi.
Tak hanya bagi siswa negeri, Gubernur juga menjamin siswa dari keluarga miskin yang bersekolah di swasta akan tetap mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah.
“Miskin bukan alasan untuk tidak sekolah. Negara hadir. Pemerintah Provinsi hadir. Kalau masih ada yang ditolak sekolah karena miskin, laporkan!” serunya.
Dengan nada penuh desakan, Dedi Mulyadi menutup pernyataannya dengan ajakan keras. “Masukkan anak-anak ke sekolah! Titip kursi? Sudah gak zaman! Ini era transparansi, bukan era anak sultan main atur-atur!” ungkapnya.
Pernyataan Dedi ini sontak memicu gelombang dukungan dari masyarakat. Banyak yang berharap sikap tegas ini bisa menjadi pemicu bersih-bersih total dalam dunia pendidikan nasional, yang selama ini dinilai sarat kepentingan, intervensi politik, dan permainan kekuasaan.
Apakah ini awal dari revolusi pendidikan Indonesia? Atau sekadar gema sesaat di tengah sistem yang sudah lama bobrok? Kita tunggu saja.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
