
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di pertemuan dengan keluarga korban longsor tambang di Cirebon (YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel)
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menyoroti mengenai peraturan pembatasan jam malam untuk anak-anak. Dia menilai jam malam tak semata-mata tindakan pengendalian sosial, melainkan termasuk pada strategi pendidikan karakter dan kesehatan untuk anak-anak.
Bahkan, Dedi Mulyadi menegaskan jika dirinya ingin membangun kebiasaan disiplin dan hidup sehat bagi generasi muda di Jawa Barat.
“Pembatasan jam malam sesungguhnya bagian dari saya ingin mengembalikan anak-anak agar bisa tidur jam 08.00 malam,” kata Dedi Mulyadi seperti dilansir dari akun YouTubenya, Kang Dedi Mulyadi Channel.
Dia beralasan, tidur cukup pada malam hari akan memberikan kesegaran fisik dan mental bagi anak-anak, agar bisa mengarungi aktivitas harian dengan optimal.
“Agar mereka mendapat istirahat yang cukup, yang pada akhirnya setelah istirahat cukup mereka bisa bangun jam 04.00 pagi, bisa mandi, bisa merapikan tempat tidurnya, bisa salat subuh, bisa sarapan, dan ke sekolahnya bisa berjalan kaki,” lanjutnya.
Tak hanya itu, eks Bupati Purwakarta ini juga membahas mengenai berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Dia menekankan kebiasaan tersebut tak hanya soal kesederhanaan, melainkan juga miliki manfaat yang besar bagi anak-anak.
“Agar kaki anak-anak kita kokoh, agar jantungnya sehat, agar napasnya panjang, agar keringatnya keluar,” jelas dia.
Dedi Mulyadi juga membantah anggapan bahwa anak-anak tak bisa menikmati aktivitas di pagi hari lantaran mengantuk. Dia pun menyontohkan tradisi pesantren yang telah lama mengajarkan untuk memanfaatkan waktu di pagi hari.
“Bukankah guru-guru, kiai-kiai besar kita yang paham betul makna pendidikan, melahirkan banyak orang saleh dengan mengajarkan momentum subuh sebagai bagian dari pendidikannya?” ungkap Dedi Mulyadi.
Bahkan, dia membahas praktik yang lebih keras dari pendidikan pesantren pada era 1970-an, yang mana anak-anak akan dibangunkan tengah malam untuk bertahajud dan hidup sederhana.
Terlebih, anak yang saleh tak hanya diukur berdasarkan asupan gizi ataupun teknologi, melainkan bentuk spiritualitas yang ditanamkan.
“Anak-anak saleh jangan hanya dipahami oleh makanan yang bergizi, jangan hanya dipahami berbagai teknologi, tapi anak saleh akan lahir dari spiritualitas yang memadai,” pungkas Dedi Mulyadi.
Dia berharap, kebijakan ini bisa membantu menciptakan generasi muda yang sehat, tangguh, dan berkarakter kuat. Sekaligus sejalan dengan nilai-nilai budaya serta spiritualitas bangsa.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
