Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Juni 2025 | 01.24 WIB

Kepala BGN Klaim Minyak Jelantah dari Program MBG Bisa Dijual Mahal untuk Bioavtur, Peluang Nyata atau Sekadar Janji Manis Program MBG?

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam podcast BGN Talks Episode 1. (YouTube/Badan Gizi Nasional Republik Indonesia)

JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digulirkan pemerintah, kembali menjadi perbincangan.

Mengutip laman Media Keuangan milik Kementerian Keuangan Republik Indonesia, program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan memperkuat asupan gizi bagi pelajar.

Tidak hanya fokus pada kesehatan anak, program ini juga dirancang untuk mendukung pelaku UMKM, menggerakkan ekonomi rakyat, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebelumnya program MBG ini telah sering kali menjadi topik perbincangan di kalangan masyarakat karena beberapa kontroversi terkait program ini, seperti keracunan massal MBG yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, kali ini program MBG kembali menjadi perbincangan bukan soal anggaran atau efektivitas program, tetapi mengenai pernyataan menarik dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Dalam salah satu video podcast pada kanal YouTube resmi Badan Gizi Nasional Republik Indonesia, Dadan menyatakan jika minyak jelantah hasil dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa dijual kembali dengan harga tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai bioavtur untuk pesawat terbang.

Dadan juga mengatakan bahwa setiap satuan pelayanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibuka akan menciptakan kebutuhan minimal 15 supplier baru, mulai dari beras, telur, daging, buah, hingga pihak yang akan mengambil minyak jelantah.

“Setiap satuan pelayanan berdiri, maka akan dibutuhkan minimal 15 supplier baru. Siapa supplier itu? Yaitu untuk masuk beras, masuk telur, masuk daging, masuk buah, dan lain-lain, termasuk yang mengambil jelantahnya,” ungkap Dadan.

Ia bahkan menekankan bahwa jelantah tersebut bisa dikomersilkan karena ada pasar khusus yang mengolahnya menjadi bahan bakar terbarukan untuk industri penerbangan.

“Kan banyak tuh digunakan minyak, ya, jelantahnya kemudian bisa ditampung, kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi. Kenapa? Karena akan digunakan untuk bioavtur kan, untuk pesawat terbang,” lanjut Dadan.

Pernyataan tersebut tentu mengundang rasa optimis, bahwa program gizi bisa berdampak luas, termasuk menciptakan ekosistem ekonomi sirkular.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah benar akan terealisasi seperti yang dikatakan?

Sebab, hingga kini belum ada skema nasional yang transparan terkait pengumpulan, distribusi, dan konversi jelantah dari dapur pelayanan publik menjadi bioavtur. 

Belum jelas siapa yang akan membeli, mengelola, dan memastikan prosesnya tidak hanya menjadi proyek elitis yang berhenti di atas kertas.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore