
Ilustrasi bullying di sekolah
JawaPos.com - Kasus pembullyan atau perundungan yang dialami siswa kelas 2 SD di Riau hingga berujung maut mendapat respons dari berbagai pihak. Apalagi, diduga ada unsur SARA di balik aksi perundungan itu.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap insiden tragis ini.
“Kita sangat prihatin dengan adanya tindakan yang dilakukan oleh anak-anak didik kita yang masih belajar di tingkat SD, yang di luar batas-batas kewajaran. Sehingga menyebabkan sang anak sampai meninggal dunia,” ujar Anwar Abbas kepada JawaPos.com, Jumat (30/5).
Ia pun mendesak semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, masyarakat, serta keluarga korban dan pelaku, untuk segera menyelesaikan persoalan ini dengan cara terbaik.
“Untuk itu kita harapkan pihak pemerintah, sekolah dan masyarakat serta keluarga dari korban dan keluarga dari para pelaku dapat menyelesaikan masalah ini dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anwar menekankan pentingnya upaya pencegahan dari sekolah dan guru agar kejadian serupa tak terulang kembali di masa mendatang.
“Ke depan kita sangat mengharapkan agar peristiwa semacam ini tidak terulang lagi karena hal tersebut benar-benar mencoreng dunia pendidikan kita,” lanjutnya. Dia juga menyerukan agar peningkatan kewaspadaan dilakukan di seluruh sekolah. Sehingga kejadian serupa tidak lagi terjadi.
“Kita berharap agar pihak guru dan sekolah, tidak hanya di sekolah yang bersangkutan tapi juga di sekolah-sekolah lain, agar benar-benar dapat meningkatkan kewaspadaannya. Sehingga diharapkan pihak guru dan sekolah akan dapat melakukan tindakan-tindakan yang bersifat preventif atau pencegahan,” tutupnya.
Sebelumnya, seorang bocah SD di Riau meninggal dunia usai diduga menjadi korban perundungan dari teman-temannya.
Korban berinisial KB, 8, yang masih duduk di kelas 2 SD tersebut mengalami luka lebam dan sempat dilarikan ke rumah sakit setelah dipukuli oleh lima orang kakak kelasnya.
Ayah korban Gimson Beni Butarbutar mengungkap anaknya sudah sering mengalami perundungan karena latar belakang suku dan agama yang berbeda dengan kebanyakan temannya.
"Seminggu yang lalu, dia itu sudah sering di- bully. Dibilang suku ini, agama ini. Itu sebelum dia sakit. Itu biasalah karena mereka namanya anak-anak sekolah," ujar Gimson Beni Butarbutar.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
