Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Mei 2025 | 02.30 WIB

BRIN dan PDIP Perkuat Pelestarian Keanekaragaman Hayati Indonesia

Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota Fraksi PDIP se-Kalimantan di Jakarta Barat, Sabtu (24/5). (istimewa) - Image

Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota Fraksi PDIP se-Kalimantan di Jakarta Barat, Sabtu (24/5). (istimewa)

JawaPos.com - Visi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, tentang pentingnya Kebun Raya sebagai garda terdepan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia menjadi sorotan utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota Fraksi PDIP se-Kalimantan. 

Acara yang berlangsung di Jakarta Barat pada Sabtu (24/5) ini, menghadirkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai mitra strategis, dengan tujuan memperkuat kolaborasi antara lembaga riset dan pemerintah daerah.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Yopi, dalam pemaparan yang bertajuk 'Sinergi BRIN-PEMDA: Pemajuan IPTEK Mendukung Pembangunan Daerah Berkelanjutan', menekankan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara dengan status megabiodiversitas di dunia. 

"Keanekaragaman hayati ini menjadi modal pembangunan berkelanjutan dan sektor penopang terbesar kedua bagi perekonomian Indonesia," ucap Dr. Yopi di hadapan para peserta bimtek.

Ia menegaskan, kekayaan biodiversitas Indonesia tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki dimensi budaya yang mendalam. "Keanekaragaman hayati juga fundamental bagi pelestarian budaya, mendukung lebih dari 1.300 suku bangsa dan 654 bahasa daerah," ujarnya.

Namun demikian, Yopi juga mengingatkan bahwa kekayaan ini menghadapi berbagai ancaman serius. Ia menyebutkan bahwa banyak spesies endemik Indonesia, termasuk tumbuhan, satwa, dan fungi, kini masuk dalam daftar merah IUCN karena terancam punah.

"Tanpa intervensi nyata, kita bisa kehilangan plasma nutfah yang sangat berharga," paparnya.

Dalam konteks tersebut, peran Kebun Raya menjadi sangat penting. Menurutnya, Indonesia memiliki 47 tipe ekoregion yang idealnya harus diwakili oleh minimal 47 Kebun Raya. Sayangnya, saat ini baru ada 37 yang aktif. 

"Kebun Raya adalah pusat konservasi, penelitian, dan edukasi. Ini bukan hanya tanggung jawab BRIN, tetapi juga seluruh pemangku kepentingan di daerah," jelasnya.

Sementara, Ketua DPD PDIP Kalimantan Barat, Lasarus, yang merupakan tokoh asli Suku Dayak Kalimantan, menyatakan kesiapan kader di daerah untuk mengawal isu ini.

"Materi yang disampaikan BRIN hari ini semakin memperkuat alasan mengapa kami di Kalimantan harus serius dalam menjaga keanekaragaman hayati. Potensi plasma nutfah di Kalimantan sangat besar. Sinergi antara BRIN dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk mengatasi berbagai tantangan," ujar Lasarus.

Lasarus yang merupakan representasi warga Indonesia dari Suku Dayak, menambahkan bahwa bagi masyarakat Dayak, menjaga alam adalah bagian dari identitas dan filosofi hidup. 

"Sejak dulu, nenek moyang kami, orang Dayak, sudah mengajarkan pentingnya menjaga hutan, sungai, dan segala isinya. Itu adalah kearifan lokal yang tidak bisa dilepaskan dari kami. Konsep 'hutan adalah ibu' atau 'tanah adalah darah' bukan sekadar slogan, melainkan pedoman hidup," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore