
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat pidato pada Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Senin (20/5/2025). (YouTube Humas Jabar)
JawaPos.com - Program pembinaan para siswa nakal di barak militer yang digagas Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi masih mendapat sorotan. Walaupun sudah meluluskan angkatan pertama yang berjumlah lebih dari 270 siswa, program yang melibatkan TNI AD itu masih dinilai tidak tepat.
Meski banyak mendapat banyak kritikan, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kukuh dengan kebijakannya. Dia menegaska, kedisiplinan merupakan salah satu upaya untuk kemajuan bangsa.
“Hari ini kita disadarkan pada sebuah peristiwa di mana kita sering buta mata, sering tuli telinga kita, sering gagu lidah kita, ketika anak-anak berteriak di jalanan mengusung sangkur, celurit berkejaran, orang menjerit kita hanya bisa diam,” ungkapnya dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Saat mereka di sudut-sudut kota menenggak obat terlarang, minuman alkohol lalu pulang marah ke orang tua, semua nyaris hanya terdiam. Termasuk ada kasus anak yang tega menganiaya sang kakek gara-gara dilarang main game online.
Ketika semua sikap negatif generasi penerus bangsa itu terjadi, kata Dedi tidak ada solusi tepat. Hanya dua saja, bisa berpeluang tidak sembuh atau malah makin menjadi.
“Ketika anak-anak kita menghabiskan waktu main game online sampai jam 4 pagi, tidak masuk sekolah, di rumah ngamuk mengancam orang tuanya kita hanya bisa diam. Proses hanya dua pidana dan penjarakan dalam penjara anak,” ungkap Dedi Mulyadi.
Padahal, menurutnya, semua akibat negatif terjadi karena tidak paham adanya lorong-lorong kegelisahan pada mereka yang bermasalah dan masih usia sekolah. Selama ini mereka terpinggirkan di rumah maupun sekolah. Tidak ada seseorang atau pihak memberikan solusi bijak.
“Orang-orang yang terpinggirkan di rumah, orang-orang yang terpinggirkan di sekolah. Semua orang hanya memberikan pengamatan analisis kajian,” ujarnya.
“Itulah metodologi yang dikembangkan bangsa ini tetapi tidak ada yang berani mengambil solusi,” sambungnya.
Menurut pendapatnya kedisiplinan militer merupakan harga mati bagi kemajuan bangsa bukan musuh. Mereka yang menolak, kata Dedi berarti tidak suka anak Indonesia bangkit.
Selain itu, mengatasi anak bermasalah dengan mengikuti pendidikan militer bukan termasuk pelanggaran hak, justru hak mereka terpenuhi. Sedangkan semangat militer yang ditanamkan dalam benak mereka usia sekolah, justru menjadikan karakter lebih baik.
“Semangat militer bukan militerisasi, kalau anak-anak dibangunkan jam 4 subuh di mana letak salahnya dan di mana letak pelanggarannya. Kalau anak-anak dibangunkan kemudian disuruh membersihkan tempat tidur apa salahnya,” kata Dedi Mulyadi.
Banyak contoh perilaku rutin keseharian dari subuh sampai malam menjelang tidur termasuk makan bergizi, olahraga, belajar, yang disebutkan Dedi Mulyadi saat anak-anak SMP, SMA bermasalah ikut pendidikan di barak.
Menurut pendapatnya, dari hal-hal seperti itu, hak anak otomatis terpenuhi, bukan hanya fisik, tetapi mental, moral dan spiritual.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
