Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Mei 2025 | 16.14 WIB

Dedi Mulyadi: Mereka yang Menolak Kedisiplinan Berarti tidak Suka Anak Indonesia Bangkit

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat pidato pada Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Senin (20/5/2025). (YouTube Humas Jabar) - Image

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat pidato pada Upacara Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Senin (20/5/2025). (YouTube Humas Jabar)

JawaPos.com - Program pembinaan para siswa nakal di barak militer yang digagas Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi masih mendapat sorotan. Walaupun sudah meluluskan angkatan pertama yang berjumlah lebih dari 270 siswa, program yang melibatkan TNI AD itu masih dinilai tidak tepat.

Meski banyak mendapat banyak kritikan, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi kukuh dengan kebijakannya. Dia menegaska, kedisiplinan merupakan salah satu upaya untuk kemajuan bangsa. 

“Hari ini kita disadarkan pada sebuah peristiwa di mana kita sering buta mata, sering tuli telinga kita, sering gagu lidah kita, ketika anak-anak berteriak di jalanan mengusung sangkur, celurit berkejaran, orang menjerit kita hanya bisa diam,” ungkapnya dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.

Saat mereka di sudut-sudut kota menenggak obat terlarang, minuman alkohol lalu pulang marah ke orang tua, semua nyaris hanya terdiam. Termasuk ada kasus anak yang tega menganiaya sang kakek gara-gara dilarang main game online.

Ketika semua sikap negatif generasi penerus bangsa itu terjadi, kata Dedi tidak ada solusi tepat. Hanya dua saja, bisa berpeluang tidak sembuh atau malah makin menjadi.

“Ketika anak-anak kita menghabiskan waktu main game online sampai jam 4 pagi, tidak masuk sekolah, di rumah ngamuk mengancam orang tuanya kita hanya bisa diam. Proses hanya dua pidana dan penjarakan dalam penjara anak,” ungkap Dedi Mulyadi.

Padahal, menurutnya, semua akibat negatif terjadi karena tidak paham adanya lorong-lorong kegelisahan pada mereka yang bermasalah dan masih usia sekolah. Selama ini mereka terpinggirkan di rumah maupun sekolah. Tidak ada seseorang atau pihak memberikan solusi bijak.

“Orang-orang yang terpinggirkan di rumah, orang-orang yang terpinggirkan di sekolah. Semua orang hanya memberikan pengamatan analisis kajian,” ujarnya.

“Itulah metodologi yang dikembangkan bangsa ini tetapi tidak ada yang berani mengambil solusi,” sambungnya.

Menurut pendapatnya kedisiplinan militer merupakan harga mati bagi kemajuan bangsa bukan musuh. Mereka yang menolak, kata Dedi berarti tidak suka anak Indonesia bangkit.

Selain itu, mengatasi anak bermasalah dengan mengikuti pendidikan militer bukan termasuk pelanggaran hak, justru hak mereka terpenuhi. Sedangkan semangat militer yang ditanamkan dalam benak mereka usia sekolah, justru menjadikan karakter lebih baik.

“Semangat militer bukan militerisasi, kalau anak-anak dibangunkan jam 4 subuh di mana letak salahnya dan di mana letak pelanggarannya. Kalau anak-anak dibangunkan kemudian disuruh membersihkan tempat tidur apa salahnya,” kata Dedi Mulyadi.

Banyak contoh perilaku rutin keseharian dari subuh sampai malam menjelang tidur termasuk makan bergizi, olahraga, belajar, yang disebutkan Dedi Mulyadi saat anak-anak SMP, SMA bermasalah ikut pendidikan di barak.

Menurut pendapatnya, dari hal-hal seperti itu, hak anak otomatis terpenuhi, bukan hanya fisik, tetapi mental, moral dan spiritual.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore