Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Mei 2025 | 02.37 WIB

Kemenag Dinilai Menyederhanakan Persoalan Pisah Rombongan Haji Akibat Beda Syarikah

Jemaah yang dari berbagai negara bersiap menunaikan salat Isya di Masjidil Haram, Arab Saudi, Rabu (15/5). (Andika/MCH2025) - Image

Jemaah yang dari berbagai negara bersiap menunaikan salat Isya di Masjidil Haram, Arab Saudi, Rabu (15/5). (Andika/MCH2025)

JawaPos.com  - Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj menyoroti persoalan pisah rombongan haji 2025. Menurut dia, Kementerian Agama (Kemenag) terlalu menyederhanakan persoalan jemaah yang terpisah rombongan dengan menganggap pisah rombongan tidak akan menurunkan kualitas pelayanan haji.

"Saya sayangkan statement yang cenderung menyederhanakan masalah itu," kata Mustolih saat dihubungi Rabu (14/5). 

Sorotan Mustolih ini terkait pernyataan yang disampaikan Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Muchlis Hanafi. Dalam rekaman yang beredar di kanal YouTube resmi Kemenag, Muchlis mengatakan pisah rombongan itu tidak berdampak pada pelayanan haji. 

Mustolih meragukan fenomena pisah rombongan itu tidak mempengaruhi kualitas layanan. Mustolih mencontohkan ada pasangan pendamping lansia yang pisah rombongan. Tentu dalam menjalankan keseharian di Makkah, si lansia tidak mendapatkan pendampingan secara intensif. Karena si pendamping berbeda rombongan. 

Contoh berikutnya ada jemaah yang terpisah dari kepala regu atau kepala rombongan. Kondisi ini akan berdampak pada kualitas bimbingan ibadah. Pasalnya sejak masa manasik, jemaah sudah diarahkan untuk mengikuti instruksi atau bimbingan dari ketua regu maupun ketua rombongan. 

Mustolih juga menyoroti adanya sejumlah jemaah yang belum mendapatkan kartu Nusuk. Padahal kartu tersebut sangat vital fungsinya. Kartu Nusuk menjadi semacam kartu sakti untuk berhaji. Jemaah bisa masuk Makkah, masuk Masjidilharam, sampai masuk Arafah harus bisa menunjukkan kartu Nusuk. 

"Kemenag bilang akan dibuatkan kartu pengganti," katanya. Mustolih khawatir kartu pengganti itu tidak diakui oleh Saudi. Khususnya oleh petugas Saudi yang bekerja di lapangan. 

Mustolih menduga keterlambatan penerbitan kartu Nusuk karena ada banyak syarikah yang digandeng Kemenag. Kemudian saat mengurus kartu Nusuk, ada perbedaan data. Misalnya jemaah A seharusnya terdata di Syarikah 1, tetapi data jemaah A masuk ke Syarikah 4. Akibatnya syarikah tidak bisa input data pembuatan kartu Nusuk. 

Bagi Mustolih keputusan Kemenag menggandeng banyak syarikah hal baik. Supaya layanan haji tidak menumpuk di satu syarikah. Tetapi terlalu banyak menggandeng syarikah, justru berakibat fatal seperti sekarang. Banyak pasangan suami-istri terpisah rombongan karena berbeda syarikah. Kemudian ada juga pendamping lansia berpisah dengan lansia yang didampingi. Juga gara-gara berbeda syarikah. (wan) 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore