Ilustrasi pemerkosaan. Dok. JawaPos
JawaPos.com - Program Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengirimkan para anak-anak dan remaja bermasalah ke barak militer mendapat beragam sorotanyang menuai pro dan kontra. Pemprov Jabar pun mengungkap fakta dari masalah sosial anak-anak dan remaja di provinsi tersebut.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat Siska Gerfianti membeberkan tujuan kebijakan pengiriman remaja bermasalah ke barak militer, yakni untuk menekan kasus kenakalan remaja di Jawa Barat.
Meski berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta Open Data Jawa Barat telah terjadi penurunan dalam tiga tahun terakhir. Rinciannya, tercatat 12.345 kasus pada 2020, kemudian turun menjadi 11.567 kasus pada 2021, dan kembali turun menjadi 10.890 kasus pada 2022.
“Memang ada penurunan jumlah kasus antara 2020 sampai dengan 2022 sebesar 12,05 persen. Namun, penurunan ini masih belum cukup signifikan,” kata Siska Gerfianti pada Selasa (13/5).
Dia melanjutkan, kenakalan remaja di Jawa Barat merupakan masalah sosial yang kompleks dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Sebab, berdampak nyata pada generasi muda dan stabilitas sosial.
Jenis kenakalan remaja yang paling menonjol di Jawa Barat meliputi tawuran antarsekolah, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, serta tindak kriminal lainnya. “Karenanya, diperlukan pendekatan yang komprehensif termasuk penerapan kebijakan yang lebih efektif sehingga kita perlu ada solusi yang potensial,” ujarnya.
Salah satu langkah praktis yang diambil dalam kebijakan ini adalah penerapan program pelatihan karakter melalui pendekatan ketarunaan. Tujuannya, memperkuat integritas, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, serta membangun kedisiplinan dan tanggung jawab sosial di kalangan peserta didik.
Oleh sebab itu, program ini secara khusus menyasar anak-anak dan remaja yang menunjukkan potensi risiko kekerasan atau kenakalan secara konsisten. “Tujuan lebih spesifik yaitu mewujudkan Pancawalwiya Jabar Istimewa, yaitu generasi muda yang cager (sehat), bager (berakhlak baik), benar, pintar, dan singer (tanggap),” sambungnya.
Dia memastikan, meski anak-anak mengikuti pendidikan karakter, mereka akan tetap mendapatkan pembelajaran formal. Rencananya, Pendidikan Karakter Panca Waluya Angkatan 1 akan diikuti oleh 272 peserta didik dari 106 sekolah.
Detailnya, 6 Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta, 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta, 53 SMA Negeri, dan 32 SMK Negeri. Kegiatan ini dilaksanakan selama 30 hari, terdiri dari 2 hari masa orientasi, 14 hari pendidikan level dasar, dan 14 hari level lanjutan dengan jumlah level disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan capaian kompetensi perilaku peserta. (mia)

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
