Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 16.31 WIB

Kenapa Umat Buddha Merayakan Waisak, Sarat Makna Sakral di Balik Perayaannya

Kirab Waisak (Andreas Fitri Atmoko/ANTARA) - Image

Kirab Waisak (Andreas Fitri Atmoko/ANTARA)


JawaPos.com - Hari Raya Waisak yang jatuh pada Senin (12/5) 2025 atau 2569 BE kali ini menjadi momen penting bagi para penganut agama Buddha di Indonesia. Demikian pula pemeluk agama Buddha di seluruh dunia.

Hari Raya Waisak sendiri merupakan hari dimana umat Buddha tidak hanya sekadar merayakan hari penting dalam ajaran agama mereka. Lebih dari itu, sarat makna pada peringatan Waisak.

Kata Waisak sendiri berasal dari dua bahasa yaitu Vaisakha (Sansekerta) dan Vesakha (Pali) yang berarti nama bulan dalam kalender Buddhis. Pada kalender Masehi, Waisak umumnya jatuh pada akhir April, Mei, atau awal Juni.

Kalangan umat Buddha menyebut Waisak sebagai Hari Raya Trisuci Waisak. Alasannya, karena umat Buddha memperingati tiga peristiwa penting, yaitu Kelahiran Bodhisattva (calon Buddha) Siddharta Gautama di Taman Lumbini pada tahun 623 SM, Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna di Bodh pada tahun 588 SM dan peristiwa Wafatnya Buddha Gotama (Maha Parinibbana) di Kusinara.

Menyongsong Waisak, umat Buddha biasanya sering mengadakan kegiatan bersih vihara, ziarah ke makam leluhur dan bersih makam pahlawan. Pada saat Hari Waisak, umat Buddha juga melaksanakan puja pada detik-detik bulan purnama. 

"Pencapaian Penerangan Sempurna" merupakan salah satu peristiwa yang diperingati pada hari Waisak. Pencapaian Buddha ini menjadi inspirasi dan motivasi umatnya untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Perayaan Waisak, tidak hanya sekedar melaksanakan tradisi puja, tetapi lebih dari itu. Umat Buddha dapat meneladani tekad, semangat, pantang menyerah, dan sifat-sifat luhur Buddha serta senantiasa melaksanakan dhamma.

Tekad dan semangat Buddha Gautama ditunjukkan pada saat beliau terlahir sebagai Petapa Sumedha, pada masa kehidupan Budha Dipankara. Petapa Sumedha bertekad untuk menjadi Buddha pada masa selanjutnya. 

Ketika waktunya telah tiba, Siddharta Gautama terlahir di bumi untuk terakhir kalinya demi menyempurnakan parami. Setelah Penerangan Sempurna terealisasikan, Buddha mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan dhamma dan membentuk Sangha. 

Saat menjelang wafat, beliau berpesan, "Oh para Bhikkhu, segala sesuatu tidak kekal adanya, berjuanglah dengan kewaspadaan (Maha Parinibbana Sutta)". 

Melalui perayaan Waisak, pemeluk agama Buddha meneladani kisah hidup Budha Gautama mengajarkan tentang perlunya perjuangan. Umat Buddha yang menyambut Waisak dengan penuh kesadaran dan meneladani sifat-sifat luhur Buddha kemudian mampu memaknai arti Waisak yang sesungguhnya.

Penghormatan atau puja tertinggi pada Buddha adalah dengan melaksanakan Dhamma dalam berbagai segi kehidupan, baik kehidupan sehari-hari, beragama, berbangsa dan bernegara.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore