Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Agustus 2024 | 00.30 WIB

Wakil Ketua Umum PBNU Ibaratkan Hubungan NU dan Muhammadiyah Layaknya Adik-Kakak

Wakil Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa di Silaturahmi Nasional Pokja Majelis Taklim (2/8). (Foto: Humas Kemenag) - Image

Wakil Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa di Silaturahmi Nasional Pokja Majelis Taklim (2/8). (Foto: Humas Kemenag)

JawaPos.com - Di lapisan masyarakat tertentu, hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah kerap memunculkan tembok pemisah yang tebal. Namun, tidak demikian bagi Wakil Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Mustofa. Dia mengibaratkan hubungan NU dan Muhammadiyah layaknya adik dengan kakak.

Keterangan tersebut disampaikan kiai Zulfa dalam Silaturahmi Nasional Pokja Majelis Taklim di Jakarta pada Jumat (2/8) malam. Dia mengatakan, Muhammadiyah sebagai kakak karena lahir terlebih dahulu pada 1912 silam. Kemudian disusul kelahiran NU pada 1926 yang lalu. Namun demikian, jumlah jamaah NU lebih banyak sehingga Kiai Zulfa menyebut NU dengan adik bongsor.

Kiai Zulfa berpendapat bahwa NU dan Muhammadiyah berbeda di aspek cabang (furu’), bukan pokok (ushul). Maka yang perlu dimunculkan adalah semangat toleransi (tasamuh). Sebagai saudara tua, lanjutnya, Muhammadiyah biasanya berpuasa dan berlebaran dulu. NU tidak mempermasalahkannya.

"NU tidak pernah puasa duluan. Muhammadiyah puasa duluan karena di mana-mana kakak itu duluan. Adik itu ngalah. Tarawih juga begitu, kakak pulangnya duluan karena rakaatnya lebih sedikit,” kata Kiai Zulfa. Ia lalu menceritakan pengalamannya menjadi penceramah di masjid Muhammadiyah selama hampir 20 tahun.

Menurut dia, pengurus Muhammadiyah sengaja mengundangnya agar jamaah Muhammadiyah mengetahui cara berpikir, berfatwa, beribadah, dan beramaliah ala NU dari kiai NU langsung. Bukan dari lainnya. "Kalau yang diundang dari Muhammadiyah, khawatirnya dia menyesatkan semua yang dilakukan NU. Saya respect (hormat) dengan Muhammadiyah," ungkapnya.

Kiai Zulfa berharap, apa yang dilakukan Muhammadiyah dengan mengundang narasumber dari kelompok lain, bisa ditiru oleh ormas atau lembaga lainnya. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman di antara umat Islam. Misalnya, dulu orang-orang Madura menganggap Muhammadiyah bukan bagian dari Islam. Namun setelah ada silaturahmi dan silatul afkar, mereka menjadi paham.

Dia lantas menyoroti pengurus masjid dan majelis taklim yang terkadang memonopoli lembaganya. Mereka mengundang penceramah dari kelompoknya sendiri dan menyampaikan suatu materi, termasuk tentang kelompok lain, berdasarkan perspektifnya sendiri. Menurut dia, hal seperti ini kurang bijaksana. Bahkan akan menimbulkan kesalahpahaman di antara umat Islam.

"Seharusnya biarkan saja. Penceramah diambil dari kelompok lainnya agar umat menjadi cerdas,” paparnya.

Kiai Zulfa kemudian menyitir perkataan Umar bin Abdul Azis yaitu: Saya justru tidak senang kalau umat Nabi Muhammad tidak berbeda pendapat. Baginya, berbeda pendapat membuka pilihan sehingga umat punya pilihan.

Kiai Zulfa berpandangan, perbedaan pendapat, baik di wilayah cabang (furu’) maupun pokok (ushul), jangan membuat pengurus majelis taklim, masjid, dan dai menjadi tidak rukun. Kiai Zulfa menyesalkan para dai yang menyampaikan narasi-narasi kebencian terhadap sesama Muslim karena tidak memahami masalah furu’ dan ushul. “Kita juga tidak boleh membenci orang yang berbeda masalah furu’ karena dia adalah saudara sebangsa, setanah air, dan sesama manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, peradaban manusia berkembang sesuai dengan tantangannya. Allah menciptakan setiap bangsa dengan peradaban dan tantangannya. Indonesia adalah negara yang penuh keragaman sehingga tantangan yang dihadapinya juga luar biasa.

Dari sisi keamanan, imbuhnya, Indonesia adalah negara yang rentan tidak aman karena ada banyak agama, etnis, dan suku.

Perbedaan itu mudah dimanfaatkan untuk saling membenci dan memusuhi. Namun demikian, Indonesia mampu menjaga keragaman karena ada banyak jembatan sosial di Indonesia yang bisa mengatasi persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan. "Silaturahim seperti ini memperkuat gerakan menjaga umat. Silaturahim juga membangun peradaban sehingga bumi di mana kita tinggal utuh dan aman," pungkasnya. Hilmi Setiawan (wan/JPK)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore