Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juni 2024 | 14.11 WIB

Semakin Menggunung, Dana Abadi Penelitian Sekarang Tembus Rp 12,9 Triliun

Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Haryono (dua dari kanan) di Jakarta (5/6). Hilmi Setiawan/Jawa Pos - Image

Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Haryono (dua dari kanan) di Jakarta (5/6). Hilmi Setiawan/Jawa Pos

 
JawaPos.com - Para peneliti atau inovator sekarang tidak perlu lagi kesulitan pendanaan untuk mengerjakan penelitiannya. Pasalnya negara menyiapkan pendanaan dalam jumlah besar, lewat dana abadi penelitian. Hasil pengelolaan dana tersebut, dikucurkan untuk kegiatan riset atau inovasi lewat Badam Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 
 
Informasi terbaru mengenai dana abadi penelitian itu, disampaikan Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Agus Haryono. "Saat ini Rp 12,9 triliun dana abadi penelitian," katanya di sela paparan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Award di kantor BRIN pada Rabu (5/6). 
 
Agus mengatakan dana abadi penelitian itu, dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Setiap tahun, pemerintah melakukan penambahan atau top up dana pokok triliunan rupiah. Kemudian hasil pengelolaan dana abadi penelitian itu, disalurkan kepada para peneliti. 
 
 
"Tahun ini kami ajukan Rp 300 miliar," katanya. Dana tersebut kemudian diperebutkan peneliti seluruh Indonesia lewat program RIIM. Peneliti dari internal BRIN, dari kampus, maupun dari industri berhak berkompetisi untuk mendapatkan kucuran dana RIIM tersebut. 
 
Agus mendapatkan tidak ada pengalokasian khusus anggaran RIIM untuk peneliti BRIN, kampus, atau industri. Jadi semuanya bersaing secara terbuka. Lewat pendanaan RIIM yang sudah berjalan, Agus mengatakan nilai untuk tiap proyek berbeda-beda. Dia mencontohkan ada proyek yang nilai atau kebutuhan dana risetnya sekitar Rp 24 juta. Tetapi ada juga satu penelitian yang membutuhkan dana sampai Rp 30 miliar. 
 
 
Dia menegaskan dengan menggunakan hasil manfaat dana abadi penelitian itu, lebih fleksibel ketimbang pendanaan APBN. Bahkan jika anggaran RIIM tahun berjalan tidak terserap habis, masih bisa digunakan untuk tahun berikutnya. Jadi peneliti tidak seperti dikejar target mengikuti sistem penganggaran APBN. 
 
Agus juga menyampaikan BRIN masih aktif melakukan pendampingan atau inkubasi startup. Bedanya anggaran inkubasi startup kali ini dari dana abadi penelitian. Jadi para pelaku startup yang mereka dampingi, tidak dikejar-kejar target menghabiskan anggaran sebelum Desember tahun berjalan.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore