JawaPos.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia buka suara soal seruan menteri wajib mundur jika berpihak terhadap salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden jelang Pemilihan Presiden (pilpres) tahun ini.
Terkait itu, Bahlil menegaskan bahwa dirinya bisa membedakan di mana dirinya bertindak sebagai tim kampanye dan menjadi bagian pemerintah, sebagai menteri investasi.
"Gini kita harus membedakan mana kita menjadi tim kampanye, mana menjadi pemerintah. Kaya saya, jujur saja, saya dukung pasangan nomor dua. Tetapi saya bisa membedakan mana saya kerja untuk mendukung dan pemerintah, kalian boleh cek di kantor ini. Satu orang pun saya tidak pernah meminta mereka untuk ASN ikut saya," kata Bahlil kepada wartawan usai paparan kinerja investasi di Kantor BKPM, Jakarta, Rabu (24/1).
"Dan saya tidak pernah memakai fasilitas negara untuk saya pakai di tim kampanye, kalian boleh cek. Kedua, saya mempergunakan waktu saya untuk membantu pasangan nomor nol dua, itu di hari libur. Andaikan pun di hari kerja, saya cuti. Kita harus profesional," imbuhnya.
Di sisi lain, dia mengaku heran dengan seruan para menteri yang berpihak kepada salah satu pasangan capres dan cawapres untuk mundur dari jabatan. Menurutnya, Pemerintahan RI sendiri sudah merepresentasikan perwakilan partai.
Bahlil menilai, munculnya seruan menteri untuk mundur dari jabatan yang gencar digaungkan akhir-akhir ini jelang pilpres dinilai tidak adil. Pasalnya, soal dukung mendukung pasangan capres cawapres juga telah dilakukan oleh sejumlah menteri di tahun-tahun yang lalu.
"Toh negara kita ini memang representasi perwakilan dari partai-partai. Kenapa baru sekarang dibilang bahwa dari partai-partai mundur. Dulu-dulu juga enggak kok. Kenapa ada yang kaya gitu. Enggak fair dong. Masa di zaman gini, masih gitu," jelas Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan sah-sah saja para menteri untuk mendukung paslon tertentu dalam pilpres karena itu merupakan hak konstitusi. Asal kata dia, tidak menabrak aturan saja.
"Dulu tahun 2019, banyak partai yang anggota kabinet menjadi tim sukses. 2014, 2009, kenapa sekarang baru dipersoalkan. Itu hak konstitusi yang penting, jangan menabrak aturan. Itu aja," lanjutnya.
Selama paparan kinerja investasi, berdasarkan pantauan JawaPos.com di lokasi, Bahlil juga terlihat mengenakan dasi berwarna kuning. Hal ini tentu mempertegas keberpihakannya untuk mendukung paslon capres dan cawapres nomor urut dua.
Saat ditanya wartawan soal alasan memakai dasi kuning. Dia enggan menjawab secara detail, justru bertanya balik dan memastikan bahwa dirinya memang 'kuning' hari ini.
"Saya pakai dasi kuning? Memang saya hari ini kuning ya," pungkas Bahlil.