Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Januari 2024 | 20.11 WIB

Pesan Jokowi di Harlah Ke-78 Muslimat NU, Jaga Kerukunan Jelang Pemilu

Presiden Joko Widodo bersama Mustasyar PBNU Habib Lutfi bin Yahya dan Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan para tokoh bangsa lainnya saat menghadiri menghadiri Harlah Muslimat NU ke-78 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (20/1/2024). - Image

Presiden Joko Widodo bersama Mustasyar PBNU Habib Lutfi bin Yahya dan Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan para tokoh bangsa lainnya saat menghadiri menghadiri Harlah Muslimat NU ke-78 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (20/1/2024).

JawaPos.com – Presiden Joko Widodo menyampaikan beberapa pesan di hadapan 150 ribu lebih kader Muslimat NU yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) kemarin (20/1).

Di momen Harlah Ke-78 Muslimat NU itu, Jokowi berpesan agar kader Muslimat menjaga silaturahmi dan saling mengingatkan untuk menjaga situasi tetap sejuk serta rukun.

Jokowi mengawali pidatonya dengan ucapan selamat untuk seluruh kader Muslimat NU di Indonesia maupun luar negeri. ’’Semoga Muslimat NU selalu guyub, rukun, dan bersatu untuk kepentingan umat, bangsa, dan negara,’’ kata mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Menurut Jokowi, ibu-ibu biasanya lebih semangat dan militan dibandingkan bapak-bapak atau para suami. Dengan keunggulan itu, Jokowi menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader Muslimat NU karena ikut menjaga NKRI, Pancasila, persatuan, serta kerukunan untuk Indonesia maju.

Jokowi juga mengatakan kepada para ibu-ibu Muslimat NU untuk tidak mau diadu domba. Hanya gara-gara perbedaan pendapat dan pilihan jelang Pemilu 2024 nanti.

Sementara itu, dalam pidato sambutannya, Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menyampaikan beberapa poin. Di antaranya adalah soal kadar ke-NU-an dirinya. ’’Saya sampaikan terima kasih kepada Sekjen PBNU, yang secara khusus menyampaikan kalau ke-NU-an saya asli,’’ katanya.

Gubernur Jawa Timur itu menegaskan, dirinya bukan pada posisi untuk menghitung kadar ke-NU-an seseorang. Karena itu, dia tidak bisa menentukan apakah ke-NU-annya itu asli atau tidak. Khofifah mempersilakan kepada petinggi PBNU untuk memberikan penilaiannya.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa semua yang hadir adalah setara. Duduk sama rendah. ’’Tidak laki-laki, tidak perempuan, semua setara,’’ katanya. Dia mengajak semua pihak untuk terus bergandengan tangan untuk berjuang demi NU dan NKRI.

Gus Yahya –sapaannya– menjelaskan, NU didirikan dengan cita-cita membuat peradaban. Perjuangan itu untuk mewujudkan negara yang kuat. Para ulama atau pendiri NU saat itu menyadari, untuk mewujudkan negara yang kuat, ibu-ibu adalah kuncinya. Karena bagi Gus Yahya, perempuan adalah tiang-tiang negara. Dia menegaskan, ibu-ibu Muslimat NU siap bergerak bersama-sama. ’’Berjuang bersama. Muslimat kuat, Indonesia kuat,’’ ucapnya. (wan/c17/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore