
Kegiatan bertani dan panen padi oleh masyarakat Kerajaan Majapahit tergambar pada relief Candi Borobudur.
JawaPos.com - Nusantara pernah memiliki kerajaan yang terkenal akan kedigdayaannya dalam menguasai banyak wilayah hingga internasional. Kerajaan tersebut bernama Majapahit. Kerajaan yang berdiri pada 1923 M ini beribu kota di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Sebagai kerajaan besar dengan rakyatnya yang makmur, masyarakat Majapahit tentu memiliki ilmu pengetahuan dalam hal pertanian. Salah satu pengetahuan tersebut adalah pengusiran hama. Sebuah lahan pertanian tentu tidak akan menghasilkan panen yang maksimal jika tidak memiliki strategi dalam mengusir hama.
Masyarakat Kerajaan Majapahit tentu memiliki cara unik dan kreatif dalam mengusir hama di lahan pertaniannya. Dilansir dari Radar Majapahit (Jawa Pos Group), petani pada masa tersebut sering menggunakan bahan-bahan alami dari alam.
Hal ini diungkapkan oleh anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim, Edi Triharyantoro. Ia mengatakan, setidaknya terdapat tiga jenis perangkap. Yakni yang memanfaatkan serat tali, hewan ketam atau sejenis kelomang, dan terasi atau belacan.
Bahan-bahan tersebut disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah perangkap yang kuat. "Petani di zaman Majapahit melakukan upaya pemberantasan dengan membuat perangkap,” ujar Edy.
Salah satu hewan yang sangat merusak tanaman adalah walang sangit. Menurut Edy, perangkap pertama dibuat dengan merendam serat tali di bekas air rendaman belalang kapa. Tali tersebut kemudian dibentangkan di tengah sawah dan akan mengundang walang sangit berkerumun.
Usai belalang berkerumun, petani kemudian membasminya. Sementara itu, fungsi terasi dan ketam juga untuk menarik walang sangit sehingga mudah untuk dibunuh.
Selain menggunakan bahan alami, para petani Majapahit juga menggunakan sebuah alat yang dirancang sedemikian rupa sehingga membuat hama burung tertangkap. Masyarakat biasanya menggunakan plencung atau bambu yang diisi dengan lumpur atau tanah di ujungnya. Alat difungsikan dengan cara diayunkan ke arah sasaran sehingga isiannya terlempar.
Alat penghalau burung lainnya seperti memedi atau orang-orangan sawah serta kitiran atau baling-baling juga digunakan. Suara dari alat tersebut berguna mengusir para burung pemakan biji padi seperti emprit dan gelatik.
Edy juga menambahkan berbagai kearifan bertani zaman kuno tersebut sebenarnya masih banyak diterapkan petani saat ini. "Semua teknologi pertanian itu berjalan selaras dengan pengetahuan tentang mangsa tanam sehingga panen petani berhasil," pungkas Edy.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
