Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Oktober 2023 | 23.57 WIB

Alih Fungsi Lahan Ancam Terjadinya Krisis Pangan, Puan Minta Pemerintah Atur Regulasinya

Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Ketua DPR RI, Puan Maharani. (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Ancaman krisis pangan kembali menyeruak, dimana ketahanan pangan di negara-negara di belahan dunia terus melemah.

Termasuk salah satunya Indonesia yang mengalami lonjakan harga pangan seperti beras dan gula.

Menyikapi hal itu Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan, ancaman krisis pangan yang terjadi ini juga disebabkan sistem pangan yang kurang efektif.

"Sistem pangan yang belum betul-betul efektif menimbulkan konflik agraria, kemiskinan, kelaparan, stunting, obesitas, perubahan, iklim dan kerusakan alam," ujar Puan Maharani dalam keterangan tertulisnya yang diterima Parlementaria, di Jakarta Selasa (15/10)

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga semua jenis beras pada minggu pertama Oktober 2023 mencapai Rp 13.674 per kilogram (kg).

Harga ini naik lebih dari Rp 1.500 per kg dibanding minggu pertama September 2023 yang masih berada di bawah Rp 11.900 per kg.

Inflasi beras secara bulanan pada September 2023 mencapai angka 5,61 persen, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Bahkan, harga beras kualitas medium tahun ini mengalami kenaikan yang tidak biasa, yakni tembus Rp 12.685 per kilogram atau naik 29,6 persen sepanjang 2023.

Selain itu, melalui pemantauan harga pada Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), terdapat 338 kota dan kabupaten di Indonesia yang mengalami lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula.

Berkaca pada hal itu, Puan Maharani mengingatkan Pemerintah memperhatikan apa penyebab melambungnya harga beras.

Puan Maharani menilai salah satunya karena kendala alih fungsi lahan sawah yang terjadi secara masif.

"Kurangnya produksi pangan yang diakibatkan krisis lahan juga ditambah fenomena kekeringan yang berkepanjangan membuat produksi pangan seperti beras juga mengalami penurunan drastis," ujarnya.

Sementara itu, menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), alih fungsi lahan pertanian mencapai 90.000 hingga 100.000 hektar setiap tahun.

Saat ini diketahui, luas lahan baku sawah (LBS) telah mengalami penyusutan, termasuk di 8 provinsi sentra beras nasional, yakni Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Terlihat pada 2019, total LBS di 8 provinsi itu mencapai 3,97 juta hektare (ha), sedangkan pada 2021 susut menjadi 3,84 juta ha.

Puan juga mengatakan, alih fungsi yang terus terjadi menjadi pengingat bagi Pemerintah, Ia meminta juga agar pemerintah membuat pemetaan baru terkait regulasi ini.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore