
Konferensi Agama dan Krisis Iklim yang berlangsung di Jakarta dihadiri oleh 150 tokoh agama dari negara-negara Asia Tenggara pada Rabu (4/10)./Youtube Majelis Hukama Indonesia
JawaPos.com – Conference on Religion and Climate Change South East Asia atau CORECS 2023 yang diselenggarakan di Jakarta, Indonesia pada Rabu kemarin (4/10).
Konferensi Agama dan Krisis Iklim ini dihadiri 150 tokoh-tokoh lintas agama dari berbagai negara di Asia Tenggara serta cendekiawan, akademisi, hingga generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap isu krisis iklim.
Pada konferensi Agama dan Krisis iklim ini, tema yang diangkat adalah ‘Ikhtiar Menghidupkan Kembali Nilai-nilai Agama dan Budaya Lokal dalam Menyikapi Perubahan Iklim, Pelestarian Lingkungan, dan Pembangunan Berkelanjutan’.
Majelis Hukama Muslimin atau MHKM yang dipimpin oleh Grand Syekh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed A-Tayeb, adalah badan independen internasional yang menginisiasi Conference on Religion and Climate Change.
Konferensi ini merupakan rangkaian yang menuju konferensi lintas agama dunia pada 6-7 November mendatang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dan bagian dari COP 28, yaitu konferensi Tingkat Tinggi PBB yang khusus membahas krisis iklim pada 30 November hingga 12 Desember 2023.
Hasil dari konferensi Agama dan Krisis Iklim di Indonesia ini nantinya akan diajukan sebagai pertimbangan pada COP 28 di UEA mendatang dalam menangani krisis iklim.
Dalam sambutannya dalam konferensi itu, Jusuf Kalla menyatakan, bahwa seluruh agama di dunia merasakan dampak krisis iklim yang nyata.
“Kalau siang hari bisa 35 hingga 36 derajat celcius, jarang terjadi dalam pengalaman di Indonesia. Dulu panas hanya banyak di padang pasir, sekarang juga di Indonesia,” kata Jusuf Kalla.
“Biasanya banjir hanya di negara-negara tropis, sekarang di Amerika dan Eropa banjir,” lanjutnya.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa kebakaran hutan yang biasanya hanya terjadi di negara khatulistiwa, kini juga terjadi di Eropa, Kanada, dan Amerika, sehingga produksi makanan, beras berkurang.
“Agama mengajarkan menjaga bumi. Islam mengajarkan kita untuk tidak sembarang menebang pohon, karena menabang dan merusak itu berarti melanggar ketentuan agama,” kata mantan wakil presiden Indonesia itu di hadapan tokoh-tokoh agama Asia Tenggara.
“Jadi dalam menjalankan apa yang kita bicarakan hari ini, sama dengan menegakkan ajaran agama yang kita yakini masing-masing. Tidak ada agama yang mengajarkan merusak alam,” lanjutnya.
Senada dengan hal itu, pemimpin Majelis Hukama Muslimin Indonesia, Profesor Quraish Shihab mengatakan, penyebab kerusakan lingkungan adalah ilmu pengetahuan manusia, kendati ilmu membawa banyak kemudahan untuk manusia.
“Dewasa ini tidak jarang terasa bahwa kemajuan ilmu pengetahuan kendati melahirkan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia, kendati demikian namun dalam saat yang sama tidak jarang mengakibatkan bencana bagi manusia dan lingkungan,” tutur Prof Quraish Shihab.
Karena itu, ia mengajak untuk memadukan ilmu dan hikmah, rasio dan rasa dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat dan merusak dan dari nafsu yang tidak puas.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
