
BERJUANG DARI LUAR: Febri Diansyah saat mengumumkan melepas jabatan sebagai juru bicara KPK (26/12/2019). (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
JawaPos.com - Kisruh tengah melanda internal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Musababnya berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) dan penetapan tersangka jenderal bintang tiga dan perwira menengah TNI. Langkah itu dianggap melanggar undang-undang.
Lantas, mantan Juru Bicara KPK Febri Diansyah pun ikut bersuara. Dia bercerita soal tujuh tahapan utama dalam kegiatan OTT di KPK. Pertama, bersifat rahasia. Seorang juru bicara pun tidak mengetahui adanya operasi tersebut.
"Pimpinan tahu nggak? Sampai saya pamit dari KPK, selalu ada pimpinan yang mengetahui peristiwa OTT. Apalagi jika sudah ada orang yang dibawa ke gedung KPK atau kantor lain terdekat," kata Febri melalui akun Twitternya, Sabtu (29/7).
Febri menjelaskan, OTT terjadi pada tahap penyelidikan kasus. Dalam proses ini sudah dilakukan koordinasi dengan penyidik, bahkan penuntut umum. Sehingga dimungkinkan dilakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat atau mengetahui kasus yang tengah dikerjakan.
Hasil pemeriksaan tersebut lalu dilaporkan ke pimpinan dan dievaluasi, untuk memastikan sangkaan awal ada atau tidaknya dugaan korupsi. "Dan juga apakah pelakunya Penyelenggara Negara atau Penegak Hukum yang jadi kewenangan KPK atau tidak," imbuh Febri.
KPK kemudian memiliki batas waktu 24 jam sejak seseorang dibawa dan diperiksa. Dalam periode itulah segalanya bisa terjadi. Penyelidik benar-benar harus bekerja cepat dan benar. Jika salah tangkap maka harus segera dikoreksi. Jika benar secara materil dan formil, maka masuk tahap berikutnya.
Kedua, mengkonfirmasi ke publik bahwa ada tim KPK yang sedang bekerja. Tahap ini awalnya menjadi perdebatan internal KPK. Namun, karena ada orang yang dibawa Penyelidik ke kantor KPK atau aparat penegak hukum (APH) lain, apalagi bisa lewat tengah malam, maka untuk meminimalisir pihak-pihak tidak bertanggung jawab muncul, maka diputuskan informasi awal disampaikan ke publik, tanpa menyebut nama pihak berperkara.
Ketiga, masuk gelar perkara. Meskipun tim Penyelidik sudah berhari-hari di lapangan, kemudian melakukan pemeriksaan dalam waktu maksimal 24 jam, ada kewajiban untuk segera menentukan status pihak yang dibawa atau diperiksa. Oleh karena itu dilakukan ekspos atau gelar perkara.
"Siapa saja yang hadir di ekspos tersebut Pihak yang hadir di ekspos itu lengkap. Mulai dari Penyelidik, Penyidik, JPU, Pimpinan dan tentu ada Tim Humas atau Jubir," ucap Febri.
Pada tahap ini Penyelidik akan memaparkan temuan, bukti, analisis dan rekomendasi pada Pimpinan serta peserta. Kemudian Penyidik dan JPU menanggapi. Bisa saling terjadi tanya jawab untuk menguji bukti-bukti yang diperoleh.
Dalam ekspos tersebut, bukti dan dugaan keterlibatan seseorang bisa dipertanyakan dan dikuliti. Kadang bahkan bisa terjadi perbedaan pendapat dan sikap antar peserta ekspos. Sebagai atasan tertinggi, maka Pimpinan yang memutuskan apakah perkara naik Penyidikan dan siapa saja tersangkanya.
"Tahap 4, Pimpinan KPK memutuskan apakah perkara OTT naik ke tingkat Penyidikan dan siapa saja tersangkanya. Yang memutuskan pasti Pimpinan, bukan Deputi, Direktur apalagi Penyelidik," jelas Febri.
Tahap 5 dilakukan penerbitan Sprindik dan Sprinham. Dilanjut pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi di tahap Penyidikan. Tahap 6 yakni konferensi pers hasil OTT. Tahapan ini dilakukan sebagai pemenuhan hak publik sekaligus kewajiban KPK pada masyarakat. Pengumuman dilakukan oleh Pimpinan KPK didampingi pejabat terkait.
Kemudian tahap 7 atau terakhir yakni penahanan tersangka dan pengembalian saksi-saksi yang diperiksa sebelumnya. Febri cukup meyakini pada tahap 1 sampau 7, Pimpinan KPK mengetahui dan bahkan wajib mengambil keputusan.
Meski begitu, Febri enggak menilai keputusan KPK itu salah atau benar dalam proses OTT kasus dugaan suap di Basarnas. Pasalnya apapun keputusan tersebut adalah sikap hukum dari KPK yang memiliki risiko dan potensi dampak yang mestinya bisa dihitung sejak awal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022