
Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Paulus Waterpauw dan jajaran staf.
JawaPos.com- Penjabat Gubernur Papua Barat Komjen Pol (Purn) Paulus Waterpauw terus berupaya melakukan pemberantasan stunting dan kemiskinan ekstrem di wilayahnya. Dia bahkan rela membelah lebatnya hutan belantara yang terletak diantara Manokwari dan Pegunungan Arfak.
Menurut Waterpauw, lokasi ini didatangi berdasarkan analisa rapat bersama dengan tim satgas percepatan penanganan stunting dan penghapusan kemiskinan ekstrim di Pemda Manokwari Selatan.
"Sebelumnya saya telah menyetir mobil sendiri dari Manokwari menuju Manokwari Selatan dengan waktu tempuh 3 jam. Untuk perjalanan PP dari Manokwari ke Pegunungan Arfak sendiri bukan perkara mudah mengingat infrastruktur jalan utamanya masih sulit ditembus. Bahkan dalam perjalanan pada lalu, saya menemukan jalanan menuju kawasan Pegaf dari Manokwari yang berjarak tak kurang 100 kilometer memang masih terbilang buruk," ungkap Paulus kepada wartawan, Jumat (16/6).
Medan berat ini ditempuh Waterpauw agar melihat langsung persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem di Papua Barat khususnya Pegunungan Arfak.
"Untuk mencapai lokasi dengan mobil jenis off-road dimana ban bergerigi, waktu tempuh yang diperlukan bisa mencapai 4 jam dengan jalanan berbatu dan licin berlumpur. Dititik tertentu kondisi jalan tidak proporsional karena terlalu sempit sehingga harus menyeberangi tak kurang empat sungai tanpa jembatan," imbuhnya.
Dalam perjalanan menuju Pegunungan Arfak, Waterpauw dan istri mengaku di Kampung Tuabiam sempat dihentikan oleh para petugas kesehatan yang baru selesai melayani masyarakat sekitar. Perjalanan kemudian dilanjutkan, setibanya di lokasi Waterpauw langsung memimpin rapat penanganan stunting dan penghapusan kemiskinan ekstrim di aula kantor bupati.
Dalam rapat tersebut turut hadir Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroy, Wakil bupati Marinus Mandacan, Ketua Tim Pengerak PKK Roma Mengawanty serta para pimpinan OPD Arfak dan provinsi.
Waterpauw mengatakan, prevalensi stunting dan angka kemiskinan ekstrem pada sejumlah daerah di Papua Barat masih tinggi. Hal ini menjadi atensi khusus Paulus Waterpauw terutama bagi Kabupaten Pegaf.
"Kami akan lebih intens menangani masalah stunting dengan lebih dekat kepada masyarakat. Kita akan mencoba berkolaborasi dengan segala komponen untuk mengatasi masalah ini dan mencoba melibatkan tokoh-tokoh agama untuk bersama menyelesaikan persoalan ini," pungkasnya.
Untuk memberantas stunting dan kemiskinan ekstrem di Papua barat, Waterpauw mentargetkan waktu 3-6 bulan. Di Puskesmas Anggi, Kampung Irai, Distrik Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak sendiri tercatat terdapat 2 orang anak yang mengalami stunting dari 65 anak dan orang tua yang hadir.
Dari kasus stunting dan kemiskinan ekstrem yang terjadi, pemerintah Provinsi Papua Barat, PKK Provinsi Papua Barat serta BKKBN Papua Barat memberikan berbagai bantuan. Adapun bantuan tersebut berupa bahan pokok, bibit tanaman holtikultura untuk 2 distrik percontohan yaitu Distrik Anggi Gida dan Distrik Hing, kompor memasak, obgin bed, telur serta susu untuk anak-anak. (*)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
