Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Desember 2021 | 19.44 WIB

KontraS Ungkap Hukuman Mati Tak Beri Efek Jera

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyoroti tuntutan hukuman mati terhadap terdakwa dugaan korupsi PT. Asabri, Heru Hidayat. Wakil Koordinator Kontras Arif Nur Fikri menilai, hukuman mati tidak akan memberikan efek jera bagi upaya pemberantasan korupsi.

"Namun menjadi pertanyaan apa yang menjadi dasar JPU mengajukan tuntutan mati terhadap terdakwa, mengingat perkara-perkara korupsi cukup banyak, apakah dasar JPU adalah untuk memberikan efek jera," kata Arif dalam keterangannya, Kamis (23/12).

Arif memandang, dalam kasus narkoba dan pembunuhan berencana, hukuman pidana mati dinilai tidak memberikan efek jera. Selain itu, seharusnya Kejaksaan Agung mendukung langkah pemerintahan Joko Widodo yang secara tidak langsung sedang melakukan moratorium hukuman mati.

Meskipun hukum positif di Indonesia masih membolehkan hukuman mati termasuk untuk kasus korupsi. Tetapi hukuman mati tersebut, seharusnya tidak diterapkan, karena terbukti tidak memberikan efek jera.

"Solusinya akan lebih bijak jika aparat penegak hukum mencari solusi penghukuman lain selain hukuman mati, jika tujuannya untuk memberikan efek jera ketimbang hukuman mati," papar Arif.

Senada disampaikan Divisi Hukum Kontras Auliya Rayyan. Dia menilai hukuman mati pada dasarnya hanya melemahkan proses hukum. Menurutnya, hukuman mati tidak memberi pelajaran pada pelaku kejahatan termasuk tidak memberikan efek jera.

"Sudah ada banyak kasus korupsi yang hukumannya dipotong dengan alasan-alasan remeh berlaku baik, sangat menyesal, dan lain-lain. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa dalam kasus ini (kasus Asabri) hukuman mati cuma hanya jadi basa-basi belaka dan bisa saja berubah," ucap Auliya.

Dia mengungkapkan, seharusnya sistem hukum di Indonesia dapat di evaluasi. Hal ini pun dilakukan untuk mengurangi potensi korupsi pada ruang lingkup pejabat publik.

"Oleh karena itu, yang mesti diubah tidak cuma sistem penghukuman untuk koruptor, tapi juga kebijakan-kebijakan lain yang dapat mempersempit pergerakan pejabat publik untuk melakukan korupsi," tandas Auliya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore