Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Agustus 2022 | 19.48 WIB

Sekolah-Sekolah yang Merawat Keberagaman dan Kepedulian Khas Indonesia

SALING MENGHORMATI: Tempat-tempat ibadah yang berada di kompleks sekolah yang dikelola Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di Medan. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS) - Image

SALING MENGHORMATI: Tempat-tempat ibadah yang berada di kompleks sekolah yang dikelola Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di Medan. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Kaleng Peduli dan Multikulturalisme yang Terintegrasi di Tiap Pembelajaran

JawaPos.com – Memasuki area sekolah, nuansa keberagaman khas Indonesia langsung tergambar. Masjid, gereja, pura, serta wihara berdampingan dalam satu kompleks.

Jelang Hari Kemerdekaan Indonesia, sekolah yang dikelola Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di Medan, Sumatera Utara, itu semacam menjadi pengingat bahwa multikulturalisme adalah aset dan identitas Indonesia. Sesuatu yang sifatnya terberi dan karena itu sepatutnya diuri-uri.

Sekolah tersebut memang memberikan akses pendidikan bagi semua orang tanpa membedakan suku, agama, dan ras serta tingkat sosial ekonomi. Siswanya tetap menghormati satu sama lain.

’’Saya dengan kawan-kawan, kami berbeda-beda agama dan suku budaya, tapi kami tetap belajar bersama, tetap bermain bersama. Nggak ada yang saling ejek,” tutur Faiz, siswa kelas VIII keturunan Tionghoa yang mengaku sejak TK bersekolah di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda tersebut, kepada Sumut Pos.

Nun di Ponorogo, Jawa Timur, penghormatan kepada yang lain, berempati kepada sesama, yang menjadi tulang punggung masyarakat bangsa yang komunal seperti Indonesia juga dipraktikkan dalam keseharian anak sekolah. Caranya, tiap siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Paju, Ponorogo, dibekali kaleng peduli.

Tiap bulan terkumpul sekitar Rp 7 juta. Tiga bulan sekali, dana yang terkumpul dari 253 kaleng itu dibagikan kepada murid yang secara ekonomi membutuhkan. Nominalnya memang tidak terlampau besar. Tapi, setidaknya dapat meringankan biaya pembelian buku dan peralatan sekolah. ’’Pemberiannya bergiliran tiga bulan sekali. Semua murid yang membutuhkan pasti mendapatkan,’’ kata Kepala MIN 6 Ponorogo Agus Prawoto kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Pimpinan Sekolah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Edy Jitro Sihombing MPd mengatakan, sekolah yang dirinya pimpin selalu berupaya menumbuhkan sikap saling menghormati dan menjaga toleransi antarumat beragama sesuai kepercayaan yang dianut. ’’Siswa di sekolah ini terdiri atas beragam suku dan agama. Komposisinya hampir sama. Demikian juga unsur pimpinan, guru, dan staf,” katanya.

Jadi, lanjut Edy, misalnya di SD, kepala sekolahnya Islam, wakilnya Kristen. Demikian juga di SMP, kepala sekolahnya semisal Buddha, wakilnya bisa Islam atau agama lain. ’’Contohnya seperti itu,’’ ujarnya kepada Sumut Pos, Kamis (11/8) lalu.

YPSIM, sebuah sekolah satu atap TK, SD, SMP, SMA/SMK ini, berlokasi di Jalan Sunggal. Didirikan pada 25 Agustus 1987 oleh dr Sofyan Tan, seorang pemuda Tionghoa yang berasal dari Desa Sunggal, sekolah itu terletak di atas pertapakan yang terselip di ujung sebuah gang. Namanya Gang Bakul, Desa Sunggal, Medan.

Gedung Sekolah Sultan Iskandar Muda berdiri di atas tanah sawah yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi dengan luas kurang lebih 1.500 meter persegi. Sekolah yang terletak di pinggiran Kota Medan itu dibangun sebagai bentuk realisasi dari mimpi seorang Sofyan Tan. Jika Martin Luther King di Amerika Serikat bermimpi suatu saat warga kulit hitam bisa punya hak-hak yang setara dengan warga kulit putih lain, mimpi pendiri Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda kala itu adalah agar suatu saat anak-anak miskin bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang bermutu.

Tak mudah untuk memulai. Gelar dokter yang didapatkan Sofyan Tan dengan susah payah tidak lagi digunakan untuk praktik sebagai seorang dokter medis. Demi mewujudkan mimpinya, Sofyan Tan banting setir untuk menjadi seorang ’’dokter sosial”. Secara bertahap, dimulailah pembangunan ’’proyek mimpi” itu.

Setelah hampir setahun membangun gedung sekolah yang diimpikannya tersebut, pada April 1988 sebanyak 11 lokal (kelas) untuk kegiatan belajar dan administratif sekolah selesai dibangun. Waktu dioperasikan 1988/1989, jumlah siswanya hanya 171 anak yang berasal dari sekitar Desa Sunggal.

Umumnya mereka adalah siswa dari keluarga kurang mampu. Jumlah gurunya juga hanya 15 orang. Fasilitas sekolah masih sangat terbatas. Dengan tekad yang kuat, Sofyan Tan terus berupaya mengembangkan sekolah tersebut hingga seperti saat ini.

Keberadaan dan konsep yang diterapkan di sekolah itu mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim memuji Sekolah Sultan Iskandar Muda tersebut sebagai simbol kebinekaan yang sangat menginspirasi. ’’Saya lihat di sini ada wihara, pura, gereja, dan masjid. Semuanya menjadi simbol kebinekaan,’’ ujarnya saat berkunjung ke sekolah itu beberapa waktu lalu.

Sekolah tersebut didirikan sebagai media untuk mengatasi persoalan prasangka dan cara pandang yang stereotipe. Padahal, sesungguhnya perbedaan suku, agama, dan ras adalah hal yang harus disyukuri.

Pendidikan multikultural di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, ujar Edy, diterapkan dengan berbagai langkah kegiatan. Misalnya, doa lintas agama pada kegiatan belajar-mengajar di kelas dan upacara nasional, perayaan hari besar agama, atau kegiatan pengayaan siswa.

Kemudian, ada pengintegrasian nilai-nilai multikultural dalam setiap pembelajaran. Mengadakan diskusi dan dialog siswa lintas agama untuk membahas topik tertentu dengan difasilitasi guru lintas agama, salah satunya. Demikian juga dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mengasah kemampuan literasi, seni, dan berpikir kritis yang berbasis pendidikan multikultural seperti klub sinematografi, simpul siswa, grup musik etnik modern, dan lain-lain.

’’Kegiatan-kegiatan keagamaan selalu kita gelar. Untuk yang beragama Islam misalnya, ada pesantren kilat, manasik haji, dan sebagainya. Untuk yang beragama Kristen, ada kegiatan pendalaman Alkitab. Demikian juga untuk agama lain,’’ lanjut Edy.

Dengan program itu, kata Edy, sekolah ingin menciptakan suasana kerukunan yang tentunya dapat menunjang motivasi belajar siswa. ’’Kepada siswa selalu kita tekankan bahwa perbedaan itu indah. Kita memberi contoh kalau tidak ada warga India, kita tidak akan pernah mencicipi kue canai. Kalau tidak ada orang Padang, kita tidak tahu lezatnya masakan Minang,’’ tuturnya.

YPSIM, lanjut dia, juga memiliki program anak asuh silang berantai. Anak asuh diseleksi dari keluarga kurang mampu dan mantan anak asuh, jika kelak sukses secara ekonomi, diharapkan menjadi orang tua asuh (kesinambungan).

Kini, di usia 76 tahun, sekolah tersebut memiliki 76 ruang belajar dan 3.200 siswa. Jumlah guru dan pegawainya sebanyak 205 orang.

Sebagai apresiasi dari kerja keras Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, pada 2014 mereka mendapatkan penghargaan Maarif Award dari Maarif Institute. Seperti diketahui, penghargaan Maarif Award diberikan kepada anak bangsa yang berdedikasi memelihara persatuan dan nilai ke-Indonesia-an, orang-orang yang mampu menjembatani perbedaan di masyarakat. Selain itu, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda memperoleh penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan dari menteri pendidikan dan kebudayaan serta Ormas Award bidang pendidikan pada 2018 dari Kementerian Dalam Negeri.

Di MIN 6 Paju, Ponorogo, kaleng peduli merupakan program Unit Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS). Program tersebut dicetuskan Wakasek Organisasi Tata dan Laksana (Ortala) Irfan Fuad Sua’edi. Dia menduplikasi program sosial yang sukses berjalan di tempat tinggalnya itu untuk diterapkan di sekolah yang berdiri sejak 1997 tersebut. ’’Di sekolah kami memang banyak siswa yang tingkat ekonominya tergolong menengah ke bawah,’’ ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore