JawaPos.com - Kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J terus mengambil atensi besar secara nasional. Para petinggi Polri tak terkecuali memberi komentar atas kasus yang melibatkan secara langsung mantan Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo tersebut.
Tanggapan atas kasus yang melibatkan Ferdy Sambo dikomentari oleh para perwiara tinggi (pati) maupun mantan pati Polri. Berikut adalah rangkuman komentar dari pihak tersebut.
- Mantan Kabareskrim Komjen (Purn) Susno Duadji
Sejak pertama kasus pembunuhan Brigadir J mencuat ke permukaan, mantan Kabareskrim Komjen (Purn) Susno Duadji terus mengikuti perkembangannya. Ia menyatakan bahwa kasus meninggalnya Brigadir J bisa terungkap dengan jelas dengan satu syarat, yaitu dengan menyita ponsel dari orang-orang yang ada di TKP.
Hal itu perlu dilakukan agar dapat diketahui mengenai pembicaraan, kiriman gambar, hingga video, dan lainnya. Menurut Susno, kasus polisi tembak polisi di rumah Irjen Ferdy Sambo adalah hal yang mudah dipecahkan.
’’Yang sulit itu nemu jenazah yang hanyut di sungai, pertama kita mengidentifikasi siapa jenazah ini, kedua kita harus bertanya meninggalnya ini karena apa,” ujar Susno Duadji di YouTube Indonesia Lawyers Club dilansir pada 24 Juli 2022.
- Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri Irjen Pol. Napoleon Bonaparte
Senada dengan yang dikatakan Susno Duadji, mantan Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol. Napoleon Bonaparte juga menyatakan bahwa mengungkap kasus pembunuhan Brigadir J adalah hal yang mudah bahkan oleh pihak penyidik biasa sekalipun.
’’Itu perkara yang mudah untuk dibongkar. Penyidik biasa saja bisa mengungkapnya. Tidak perlu TGPF (tim gabungan pencari fakta) segala macam,” kata Napoleon usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (15/7).
Terdakwa perkara penganiayaan terhadap YouTuber M. Kece itu berpendapat bahwa pihak-pihak yang berbicara di publik terkait dengan insiden mematikan tersebut mempertaruhkan integritas diri mereka. ’’Kalau terbukti apa yang dikatakannya itu membabi-buta membela sesuatu yang ditutup-tutupi atau sebagainya, suatu saat akan kembali kepada yang bersangkutan,” tegas Napoleon.
- Brigjen Pol Krishna Murti
Terbaru, mantan atasan Ferdy Sambo di Polda Metro Jaya, Brigjen Pol Krishna Murti ikut menanggapi kasus yang diduga menyeret mantan anak buahnya itu. Dalam unggahannya di media sosial, Krishna Murti seolah menyindir Ferdy Sambo yang saat ini terseret kasus pembunuhan Brigadir J. Krishna Murti dalam pesan video yang dibagikannya melalui Instagram, menyinggung soal proses jabatan dan pangkat secara instan.
Hal ini tampak serupa dengan Ferdy Sambo yang merupakan sosok perwira yang terbilang sangat cepat dalam urusan karir, pangkat, dan jabatan.
Dia tercatat sebagai perwira termuda di angkatannya yang mendapat dua bintang di pundak. Bahkan, semua senior-seniornya pun sudah dilibas dan disalip Ferdy Sambo yang rata-rata masih bintang satu.
Dalam ungkapannya itu, Krishna Murti menganalogikan jenjang karir dengan ‘naik gunung’. Bahwa dalam berkarir, semestinya merupakan usaha sendiri. Bukan ditarik dari atas. ’’Kalau naik gunung itu, pijakan kakinya harus kuat. Jangan mengandalkan tarikan orang di atas. Kekuatan diri sendiri yang membawa kita ke atas,” ungkap Krishna Mukti.
Ia lantas menyampaikan pesan para seniornya di kepolisian yang didapatnya sejak muda dulu. ’’Kejar karirmu, jadilah pemimpin Polri di masa depan,” sambung dia.
Untuk diketahui, sebelum menjabat sebagai Kadiv Propam Polri, Ferdy Sambo pernah menjabat sebagai Wakil Dirreskrimum Polda Metro Jaya. Saat itu, Krishna Murti menjabat sebagai Dirreskrimum atau atasan Ferdy Sambo. Ketika itu, Ferdy Sambo masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi atau AKBP. Sedangkan Krishna Murti berpangkat Komisaris Besar atau Kombes.
(*)