Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Agustus 2022 | 18.12 WIB

Protes Kenaikan Harga Tiket, Travel Ancam Boikot Penerbangan Umrah

PENGECEKAN: Sejumlah calon jamaah umrah dari berbagai daerah di Jawa Timur mengantre di T2 Bandara Internasional Juanda tahun lalu. Tahun ini pemerintah Arab Saudi mulai membuka ibadah umrah. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

PENGECEKAN: Sejumlah calon jamaah umrah dari berbagai daerah di Jawa Timur mengantre di T2 Bandara Internasional Juanda tahun lalu. Tahun ini pemerintah Arab Saudi mulai membuka ibadah umrah. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Secara dadakan maskapai penerbangan menaikkan harga tiket untuk jemaah umrah. Bahkan untuk tiket yang sudah dipesan atau dibooking, juga dinaikkan. Kebijakan maskapai itu menuai protes dari travel umrah. Mereka siap memboikot dengan membatalkan pengiriman jemaah umrah.

Polemik kenaikan harga tiket itu diceritakan oleh Ketua Umum Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bersathu) Wawan Suhada.

"Tiga hari lalu, jam 11 malam ada pengumuman kenaikan harga tiket dari maskapai Garuda," kata Wawan melalui sambungan telepon Selasa (2/8).

Dia mengatakan ketentuan kenaikan harga tiket tersebut berlaku juga untuk untuk tiket yang sudah mereka booking. Untuk penerbangan bulan Agustus ini naik sekitar Rp 800 ribu. Kemudian untuk penerbangan bulan September naik jadi sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta.

Menurut Wawan keputusan kenaikan harga tiket secara sepihak dan mendadak itu, merugikan travel. Sebab mereka otomatis akan menaikkan harga paket umrah yang sudah dibayar jemaah. Akibatnya jemaah juga bisa dirugikan.

"Kemampuan ekonomi jemaah umrah itu berbeda-beda. Jangankan ada tambahan Rp 1 juta, ada tambahan biaya Rp 500 ribu saja kadang cukup berat," tuturnya.

Wawan juga mengatakan, keputusan Garuda menaikkan harga tiket umrah akhirnya diikuti maskapai lainnya. Bahkan maskapai Saudia juga ikut menaikkan harga tiket umrah, dengan skema yang mereka sebut sebagai upselling. Begitupun untuk maskapai-maskapai swasta lainnya.

Dijelaskannya, travel keberatan dengan keputusan kenaikan harga tiket yang berkisar Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta tersebut. Baginya kenaikan harga tersebut tidak masuk akal. Kalaupun ada kenaikan pajak bandara, harga avtur, dan lainnya, kenaikan harga tiket umrah tidak semahal itu.

Wawan menegaskan seluruh asosiasi umrah menyatakan keberatan dan meminta maskapai meninjau ulang kenaikan harga itu.

"Jika tidak, kami siap memboikot dengan me-refund pembelian tiket umrah," jelasnya.

Dia mengatakan Selasa (2/8) siang mereka akan bertemu dengan maskapai Garuda untuk membahas persoalan kenaikan harga tiket tersebut. Dia berharap ada keputusan yang baik antara kedua pihak. Termasuk pembatalan kenaikan harga tiket.

Pihak travel juga meminta pemerintah ikut bergerak mengatasi kenaikan harga tiket ini. Dia mengatakan soal harga tiket, memang hak maskapai. Tetapi di Indonesia ada Undnag-Undang soal persaingan usaha dan perlindungan hak konsumen yang harus dipatuhi bersama.

Karena itu, dia meminta Kemenag sebagai kementerian yang membidangi urusan umrah, untuk ikut mengatasi persoalan ini.

Sementara itu dari Kemenag belum banyak komentar soal kenaikan harga tiket umrah tersebut. "Urusan tiket apakah di Kemenag," kata Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief.

Dia juga menegaskan, yang sulit untuk mendapatkan tiket apakah untuk penerbangan umrah saja atau penerbangan secara umum. Hilman juga menyampaikan Kemenag akan berkoordinasi dengan Kemenhub dan maskapai soal polemik harga tiket tersebut.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore