alexametrics

3 Persen TNI Terpapar Radikalisme, BNPT: Itu Tidak Akurat

21 November 2019, 16:07:27 WIB

JawaPos.com – Kala masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu mengungkapkan sebanyak tiga persen TNI yang terpapar radikalisme. Hal ini dibantah  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Suhardi Alius saat rapat dengan Komisi III DPR. Suhardi menegaskan data tersebut tidak akurat.

Sehingga dia mempertanyakan data yang dimiliki oleh Ryamizard Ryacudu. “‎Tidak akurat.Tidak ada data sama sekali. Tidak, mungkin bisa tanya sama Mabes TNI,‎” ujar Suhardi kala dicecar petanyaan soal stetmen Ryamizard di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/11).

Suhardi sempat menceritakan kronologi ‎stetmen dari Ryamizard tersebut. Kala iti dirinya ditelpon oleh Menteri Korrdinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) kala masih dijabat Wiranto. “Hardi dari mana data itu (data dari Ryamizard Ryacudu),” kata Suhardi seperti menirukan ucapan Wiranto.

Ketika itu Suhardi mengungkapkan tidak punya data yang dimaksud oleh Ryamizard Ryacudu mengenai tiga persen TNI terpapar radikalisme. Sehingga dia menjawab tidak tahu dan tidak punya data saat Mantan Menko Polhukam Wiranto menghubungi dirinya. “Karena kami juga tidak punya data itu. Jadi data tidak pernah kami dapatkan data itu,” bebernya.

Oleh sebab itu Suhardi mengungkapkan kepada Komisi III DPR untuk menanyakan langsung kepada Ryamizard Ryacudu mengenai data yang dipunyai tersebut. Sebab BNPT sama sekali tak punya data itu. “Silahkan bapak tanya Pak Menhan (Ryamizard Ryacudu). Karena kami tidak punya data itu,” katanya.

Sekadar informasi, mantan Menhan Ryamizard Ryacudu mengaku prihatin dengan dengan sekelompok tertentu yang ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi khilafah. Bahkan, ada prajurit TNI yang terpapar paham radikalime.

Berdasarkan data yang dimiliki Kementerian Pertahanan, menurut Ryamizard, sebanyak tiga persen anggota TNI yang sudah terpapar paham radikalisme dan tidak setuju dengan ideologi negara, Pancasila.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Gunawan Wibisono



Close Ads