Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Mei 2020 | 10.48 WIB

Kalah dari Bangladesh, Uji Spesimen Covid-19 di Indonesia Masih Rendah

Petugas medis mengambil sampel penumpang KRL Commuter Line saat tes swab di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020). Tes swab yang dilakukan secara random untuk 300 penumpang dengan mengumpulkan cairan atau sampel dari bagian belakang hidung dan ten - Image

Petugas medis mengambil sampel penumpang KRL Commuter Line saat tes swab di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020). Tes swab yang dilakukan secara random untuk 300 penumpang dengan mengumpulkan cairan atau sampel dari bagian belakang hidung dan ten

JawaPos.com - Indonesia masih berupaya menggenjot jumlah pengujian spesimen untuk mendeteksi pasien positif Covid-19 per hari. Sebab ambisi pemerintah sebelumnya menargetkan Indonesia bisa menguji spesimen hingga 10 ribu sehari. Namun ternyata jumlah itu masih kalah dari Bangladesh, negara dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari Indonesia.

Pakar Kesehatan dari Fakuktas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono, membenarkan Indonesia masih kalah dalam pengujiam deteksi Covid-19 dibanding Bangladesh. Dari rata-rata 8 ribu spesimen per hari yang diuji, kemampuan laboratorium mendeteksi kasus positif belum sampai 10 persen atau hanya 500-600 kasus positif.

"Iya kita masih lambat sekali dibanding Bangladesh. Kira-kira kemampuan kita masih 600-500. Itu menunjukkan ya labnya masih segitu kemampuannya. Artinya 8 ribu sehari spesimen diperiksa, hasilnya belum ada peningkatan," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (20/5).

Oleh karena itu, kata dia, tak heran grafik masih akan naik. Sebab ada kasus yang masih tak terdeteksi.

"Bahayanya adalah banyak kasus yang tak terdeteksi. Dan itu jadi penularan lainnya. Bukan hanya Orang Tanpa Gejala, baik itu ODP dan PDP banyak yang tak terdeteksi juga. Banyak dengan gejala pun tak terdeteksi," jelasnya.

"Bayangin kalau kasusnya 500. Harusnya PDP atau ODP-nya 1000. Masih jauh dari seharusnya," ujarnya.

Apa Kendalanya?

Pertama adalah masalah kemauan. Menurut Tri Yunis, negara kita masih belum mengetahui bagaimana menanggulangi Covid-19.

"Gugus Tugas sudah terbentuk. Harusnya semua Gugus Tugas di tiap provinsi mengetes semua titik. Kalau di Depok misalnya harus dites di pasar tradisional, tempat keramaian, stasiun bus, jadi kita tahu sumber penularannya di mana," jelasnya.

Kedua, adalah persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Sehingga tes pun mandek di angka 500-600 per hari.

"Harusnya meningkat 700-800 per hari. Seribu per hari kalau perlu yang terdeteksi. Baru kurva akan turun," katanya.

Lab yang tersedia sudah ada 76-78 laboratorium. Tak hanya tes PCR, tetapi juga sudah ditambah dengan kemampuan Tes Cepat Molekuker (TCM).

Kalah Dari Bangladesh

Data Worldometers menyebutkan jumlah tes pasien Covid-19 per 1 juta populasi adalah sebanyak 1.239 tes. Sedangkan Indonesia per 1 juta populasi adalah sebanyak 776 tes.

Meski begitu, per hari ini, Rabu (20/5), jumlah spesimen total yang diuji di Indonesia sudah mencapai 211.883 spesimen, unggul dari total spesimen Bangladesh yakni 203.852. Jumlah ini diharapkan semakin bisa digenjot agar segera mendeteksi kasus positif lebih masif dan kasus yang terdeteksi segera diisolasi.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore