
Polisi melepaskan water cannon dan gas air mata ke arah mahasiswa yang berada di depan pagar gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9). (Muhamad Ali/Jawa Pos)
JawaPos.com - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia menginginkan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo tak ada lobi-lobi dalam pertemuan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (27/9). Aliansi BEM seluruh Indonesia menginginkan pertemuan tersebut dapat berlangsung secara terbuka dengan disaksikan seluruh masyarakat Indonesia.
"Dilaksanakan secara terbuka dan dapat disaksikan langsung oleh publik melalui
kanal televisi nasional," kata Koordinator Pusat Aliansi BEM seluruh Indonesia, Muhammad Nurdiyansyah dalam keterangannya, Jumat (27/9).
"Aliansi BEM seluruh Indonesia pernah diundang ke Istana Negara satu kali pada 2015. Akan tetapi, undangan tersebut dilakukan di ruang tertutup. Hasilnya jelas, gerakan mahasiswa terpecah," sambungnya.
Nurdiansyah menuturkan, tuntutan mahasiswa telah disampaikan secara jelas melalui aksi dan tersiar di media massa. Menurutnya, yang diperlukan bukan pertemuan yang penuh negosiasi, melainkan sikap Presiden terhadap tuntutan mahasiswa.
"Secara sederhana, tuntutan kami tak pernah tertuju pada pertemuan, melainkan tujuan kami adalah Bapak Presiden memenuhi tuntutan," ucap Nurdiansyah.
Menurut Nudiansyah, aspirasi mahasiswa berasal dari kantung-kantung kegelisahan masyarakat akibat tidak sesuainya kebijakan negara dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Berbagai gerakan yang dilakukan mahasiswa diberbagai wilayah saat ini telah menyuarakan tuntutan yang jelas.
Seluruh aksi demonstrasi ini, kata Nurdiansyah, tidak akan terjadi apabila negara mau membuka diri serta mampu mendengar apa yang diinginkan oleh masyarakat. Mahasiswa pun kecewa atas setiap tindak kekerasan yang dilakukan aparat keamanan yang bertindak represif.
"Presiden Jokowi seharusnya bisa menangani setiap aksi demonstrasi sebagai bagian aspirasi publik dengan cara yang persuasif, humanis, dan tidak represif," sesal Nurdiansyah.
Oleh karena itu, BEM seluruh Indonesia meminta Presiden Jokowi untuk ambil bagian dalam mengusut, menindak, dan memberikan sanksi kepada aparat yang telah melakukan tindak kekerasan kepada massa aksi.
"Bagi kami gerakan ini muncul dari kesadaran kolektif yang didasarkan kepada moral dan intelektual, sehingga tidak ada niatan sedikitpun untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan konstitusi," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Prediksi Skor Madura United vs Arema FC: Pertarungan Seru Ze Gomes dan Andre Caldas
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Prediksi Skor Toulouse vs Strasbourg: Les Violets Berusaha Akhiri Paceklik Gol di Kandang
Prediksi Skor Cagliari vs Frosinone: Canarini Bidik Akhiri Kutukan 13 Tahun
Prediksi Skor PSIM Yogyakarta vs Dewa United: Banten Warriors Curi Kemenangan di Sultan Agung
Kamera Pengintai Identifikasi 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022