
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua DPR Bambang Soesatyo saat buka puasa bersama di rumah dinas Ketua DPR, Jakarta, Senin (13/5/19). Buka puasa bersama dihadiri Wapres Jusuf Kalla, Ketua MPR, Ketua DPD, menteri kabinet kerja dan sejumlah pejabat
JawaPos.com - Perang dagang antara dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok masih belum mereda. Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dinilai perlu merumuskan berbagai inisiatif baru untuk menyiasati ketidakpastian global tersebut.
Inisiasi itu diungkapkan oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet pada Minggu (9/6). Dia mengatakan, perumusan inisiatif baru atau kebijakan antisipastif itu diperlukan agar ekses perang dagang tidak menimbulkan kerusakan serius di dalam negeri. "Karenya pemerintah dan DPR tidak boleh pasif," kata Bamsoet dalam keterangannya, Minggu (9/6).
Selain pemerintah, TNI dan Polri juga harus dapat memastikan terjaganya stabilitas keamanan nasional dan ketertiban umum pada periode ketidakpastian global ini. Menurutnya, ke depan hampir bisa dipastikan bahwa kinerja ekspor akan melemah.
"Itu akan menyebabkan defisit neraca perdagangan bisa berkepanjangan. Laju ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah atau CPO (crude palm oil) dan karet, tidak akan mulus lagi," terangnya.
Pada saat yang sama, lanjut Bamsoet, ada potensi pasar Indonesia yang besar akan dibanjiri produk impor. Salah satunya adalah produk baja dari Tiongkok. Dampak lainnya adalah meningkatnya permintaan valuta asing akibat tingginya volume impor. Tingginya permintaan valuta asing berpotensi mendepresiasi rupiah.
"Berbagai kemungkinan buruk itu harus diantisipasi. Pemerintah dan DPR harus bersiasat agar ketidakpastian global itu tidak menimbulkan kerusakan serius. Untuk itu, negara harus kondusif," tuturnya.
Apalagi, kata Bamsoet, Indonesia memiliki modal dasar yang cukup mumpuni untuk menghadapi karut-marut perdagangan global tersebut. Menurutnya, Indonesia masih sangat potensial menarik investasi asing. Pembangunan infrastruktur yang merata di semua daerah juga dapat merangsang investor lokal untuk berbisnis.
Motor pertumbuhan lainnya adalah konsumsi masyarakat yang akan diupayakan tetap tinggi oleh pemerintah. Semua itu masih ditambah lagi dengan naiknya tingkat keyakinan komunitas pebisnis mancanegara.
"Sebagaimana tercermin dari pernyataan tiga lembaga pemeringkat internasional, yakni Standard and Poor's atau S&P Global Rating, Fitch Ratings, dan Moody’s," terangnya.
Modal dasar itu dinilai bisa dieksploitasi untuk mempertebal daya tahan ekonomi nasional. Syarat utamanya, terjaganya stabilitas keamanan nasional, ketertiban umum, dan terjaganya stabilitas politik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022