
Beredar poster Jokowi dengan baju dan mahkota raja di sejumlah wilayah Jawa Tengah yang dikenal sebagai kandang banteng.
JawaPos.com - Ribuan alat peraga kampanye (APK) bergambar Joko Widodo (Jokowi) sebagai Raja Jawa sudah dicopot. Kini APK tersebut sudah dikumpulkan di markas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Semarang Jawa Tengah.
DPD PDIP Jawa Tengah tengah pun tengah menunggu pemilik ribuan APK tersebut. Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto mengatakan, mereka bermaksud mengonfirmasi kejadian itu secara baik-baik.
"Kami tunggu si penanggung jawabnya datang ke DPD PDIP Jateng. Kalau dia datang, akan kami ajak diskusi kenapa dia pasang begini. Kami menunggu sikap ksatrianya. Dijamin tidak akan lecet," ujar Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Rabu (14/11).
Politikus yang akrab disapa Bambang Pacul itu juga mengatakan, beberapa hari lalu dia menemukan poster Jokowi dengan memakai mahkota kerajaan. Ia pun lantas mengonfirmasikannya ke Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin dan DPP PDIP. Hasilnya, TKN dan DPP PDIP mengaku tidak pernah memasang poster tersebut.
Menurut Bambang, secara substantif, poster tersebut justru melecehkan kecerdasan masyarakat. Atas dasar itu, ia lantas meminta seluruh APK poster Jokowi ini dibersihkan, diturunkan, dan disimpan di kantor partai.
Dalam proses penurunan itu, lanjutnya, ternyata masih ada lokasi yang hendak dipasangi. Para pemasang ini pun dicegah lalu ditanyai.
Dari informasi para pemasang, diketahui bahwa mereka dikomando dari Hotel Siliwangi, Semarang. Para pemasang mengaku bahwa mereka rakyat biasa yang secara pribadi memilih Jokowi, namun butuh uang untuk hidup.
Mereka dibayar Rp 10 ribu per sekali masang poster, di luar APK yang sudah disediakan. "Dibayar Rp 10 ribu perposter. Itu diluar APK. Setiap desa pasang 10. Kalau di Jateng ada 8000 desa, berarti 80 ribu," tuturnya.
Informasi lainnya, bahwa sejumlah stiker juga dipasang di ratusan angkutan kota (angkot). Ada pemilik angkot yang mengaku dibayar Rp 100 ribu. Ada juga angkot di wilayah Pati dan Blora dibayar hingga sebesar Rp 150 ribu.
Pihaknya kemudian membersihkan angkot-angkot itu. Supir angkot dikumpulkan dan diajak berdialog. Sementara APK yang dipasang di ruang publik dibersihkan dan dikumpulkan di kantor partai.
Menurut Pacul, pihaknya masih berpandangan positif bahwa kemungkinan si pemilik APK memasangnya tanpa sadar aturan yang ada. Namun, tak menutup kemungkinan memang ada upaya men-downgrade Jokowi secara lembut.
"Jadi kita tunggu orangnya. Kalau mau ambil ya datang ke kantor PDIP Jateng. Kita ingin dialog supaya ketahuan siapa yang keliru. Supaya sekaligus ada proses pendidikan politik di sini," pungkasnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
