Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Juli 2020 | 20.53 WIB

Diksi New Normal Tak Dipahami Masyarakat Karena Paka Bahasa Inggris

Pengguna jalan  melintas di sekitar mural yang bertema - Image

Pengguna jalan melintas di sekitar mural yang bertema

JawaPos.com - Pemerintah mengakui salah memilih diksi new normal di masa pandemi virus Korona. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sriphastuti mengatakan bahwa banyak masyarakat tidak memahami kalimat new normal karena menggunakan bahasa Inggris.

"Namanya kan jelas new normal. Tapi kemudian orang tidak melihat new-nya. Langsung kembali ke normal," ujar Brian dalam diskusi secara virtual di Jakarta, Sabtu (11/7).

Brian mengatakan masyarakat tidak memahami new normal karena diksi tersebut menggunakan istilah bahasa asing. Akhirnya, diksi ini disalahartikan oleh masyarakat yang mengira kehudupan saat ini sudah normal.

"Jadi karena ada unsur bahasa asingnya yang kemudian tidak mudah dipahami," katanya.

Namun demikian Brian berharap masyarakat untuk bisa mengubah pola hidup baru yang berkaitan dengan adaptasi kebiasaan baru. Seperti memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

"Perilaku yang bisa membatasi atau menghindari transmisi persebaran dari orang ke orang supaya tidak terinfeksi atau terpapar virus," ungkapnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan sejak awal pemerintah telah salah memilih diksi new normal. Yuri mengaku banyak masyarakat yang bingung dengan diksi new normal tersebut.

"New normal diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru," ujar Yuri.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore